Ruang Gagasan

Freire: Pendidikan Bukan Menabung Pengetahuan di Kepala Murid

Ketika ruang kelas hanya dipenuhi suara guru, murid dapat kehilangan kesempatan untuk bertanya dan memahami dunia dengan pikirannya sendiri. Melalui Paulo Freire, tulisan ini mengajak kita memeriksa kembali apakah pendidikan sedang memanusiakan murid atau sekadar menimbun pengetahuan.

Guru dan para murid berdialog, mencerminkan pendidikan yang menghargai suara bersama.
Guru dan para murid berdialog, mencerminkan pendidikan yang menghargai suara bersama.

Paulo Freire: Pendidikan Bukan Menabung Pengetahuan di Kepala Murid

Ruang kelas dapat tampak tenang ketika guru berbicara dan murid menyalin setiap kalimat. Buku terbuka, papan tulis penuh, dan tugas diselesaikan. Namun, ketenangan itu belum tentu menandakan bahwa murid sedang memahami. Mereka mungkin hanya belajar menerima pengetahuan tanpa kesempatan bertanya dari mana pengetahuan itu berasal dan apa hubungannya dengan kehidupan.

Paulo Freire mengajak kita melihat bahwa pendidikan bukan kegiatan memindahkan isi kepala guru ke kepala murid. Pengetahuan lahir ketika manusia berjumpa dengan dunia, mengajukan pertanyaan, mendengarkan orang lain, dan memeriksa kembali pemahamannya. Karena itu, belajar seharusnya membuat murid semakin mampu menyebutkan dunia dengan kata-katanya sendiri dan bertindak secara bertanggung jawab di dalamnya.

Ketika Kelas Dipenuhi Suara Guru

Masalahnya bukan karena guru berbicara atau memberikan penjelasan. Murid membutuhkan guru yang menguasai pelajaran dan mampu menuntun mereka memasuki pengetahuan yang belum dipahami. Persoalan muncul ketika suara guru menjadi satu-satunya suara yang menentukan pertanyaan, arti, dan kesimpulan. Murid tidak memperoleh kesempatan untuk menanggapi, meragukan, atau menghubungkan pelajaran dengan pengalamannya.

Suara murid juga tidak hanya berarti kesempatan berbicara di dalam kelas. Murid sungguh memiliki suara ketika pertanyaannya didengarkan, alasannya diperiksa, dan pengalamannya diperlakukan sebagai bahan yang layak dipikirkan. Jika mereka hanya diperbolehkan menjawab sesuai keinginan guru, percakapan yang terjadi belum menjadi dialog. Ruang kelas mungkin tetap tertib, tetapi murid sedang dilatih mengikuti pengetahuan, bukan mengambil bagian dalam proses memahaminya.

Pendidikan sebagai Kegiatan Menabung

Freire menyebut pembelajaran satu arah sebagai pendidikan “gaya bank”. Dalam pola ini, guru dianggap sebagai pemilik pengetahuan, sedangkan murid diperlakukan seperti tempat penyimpanan. Guru memberikan informasi, murid menyimpannya melalui catatan dan hafalan, kemudian mengeluarkannya kembali ketika ujian. Keberhasilan akhirnya dinilai berdasarkan ketepatan murid mengulangi apa yang telah diberikan (Freire, 2000, bab II).

Bahaya pendidikan gaya bank tidak terletak pada banyaknya pengetahuan yang diajarkan, tetapi pada cara pengetahuan itu diperlakukan sebagai sesuatu yang telah selesai dan tidak perlu diperiksa. Murid mengetahui isi pelajaran, tetapi belum tentu memahami hubungan, alasan, dan kepentingan di baliknya. Mereka dibiasakan menerima kenyataan sebagaimana dijelaskan kepada mereka, bukan belajar melihat bahwa kenyataan memiliki persoalan yang dapat dipertanyakan.

Kritik tersebut tidak berarti guru tidak boleh menjelaskan, murid tidak perlu menghafal, atau buku pelajaran harus ditinggalkan. Informasi, latihan, dan penguasaan konsep tetap penting. Namun, semuanya perlu membuka jalan menuju pemahaman. Pengetahuan seharusnya tidak berhenti sebagai simpanan dalam kepala, tetapi menjadi alat untuk membaca kehidupan secara lebih jernih.

Murid Bukan Wadah Kosong

Murid datang ke sekolah dengan bahasa, ingatan, nilai, pertanyaan, pengalaman keluarga, dan pengetahuan yang diperoleh dari masyarakatnya. Semua itu belum tentu benar dan tetap perlu diperiksa. Namun, mengabaikannya berarti menganggap pendidikan baru dimulai ketika guru berbicara. Padahal, pembelajaran dapat bertumbuh ketika pengetahuan yang dibawa murid dipertemukan dengan konsep, bukti, dan pandangan yang lebih luas.

Sebagai pengganti pendidikan gaya bank, Freire menawarkan pendidikan hadap-masalah yang berlangsung melalui dialog. Guru dan murid bersama-sama memeriksa suatu persoalan, tetapi hal itu tidak berarti keduanya memiliki pengetahuan dan tanggung jawab yang sama. Guru tetap menguasai bahan, merencanakan pembelajaran, mengajukan pertanyaan, serta menuntun proses agar pembicaraan tidak kehilangan arah.

Dialog juga bukan kegiatan menerima semua pendapat sebagai sesuatu yang benar. Pendapat perlu diuji melalui alasan, bukti, dan kesediaan untuk dikoreksi. Wayne Au menjelaskan bahwa dalam pendidikan Freirean, guru tidak mengarahkan murid untuk menerima kesimpulannya, tetapi tetap bertanggung jawab mengarahkan proses pembelajaran (Au, 2007). Dengan demikian, murid dihargai sebagai subjek tanpa membuat guru meninggalkan perannya.

Membaca Kata dan Membaca Dunia

Bagi Freire, membaca tidak hanya berarti mengenali huruf, memahami kalimat, dan menemukan informasi di dalam teks. Sebelum mengenal tulisan, manusia telah belajar membaca dunia melalui pengalaman, bahasa, hubungan sosial, dan keadaan tempat ia hidup. Pengalaman tersebut membentuk cara seseorang memahami kata-kata yang kemudian dibacanya (Freire, 1983).

Namun, membaca dunia bukan berarti pengalaman pribadi menjadi ukuran bagi seluruh kebenaran. Pendidikan justru memberi murid bahasa, konsep, dan pengetahuan yang memungkinkannya membaca kembali pengalaman tersebut secara lebih kritis. Teks membantu manusia memahami dunia, sedangkan kenyataan memberi konteks bagi teks. Hubungan keduanya membuat kegiatan membaca menjadi bagian dari proses mengetahui.

Membaca dunia secara kritis juga bukan kebiasaan mencurigai segala sesuatu atau sekadar mencari pihak yang dapat disalahkan. Murid perlu belajar mengenali persoalan, memeriksa penyebab, membandingkan pandangan, dan mempertimbangkan akibat suatu tindakan. Kesadaran itu kemudian perlu bergerak menuju praksis, yaitu hubungan antara refleksi dan tindakan. Dengan demikian, pengetahuan tidak hanya menjelaskan kenyataan, tetapi menolong manusia mengambil bagian secara bertanggung jawab dalam mengubahnya (Freire, 2000, bab II).

Mendengar Kehidupan Anak di Papua

Gagasan Freire penting bagi pendidikan di Papua, tetapi tidak boleh diterapkan dengan anggapan bahwa semua anak Papua memiliki pengalaman yang sama. Anak di pegunungan, pesisir, kepulauan, pedalaman, dan perkotaan hidup dalam keadaan yang beragam. Mereka membawa bahasa, kebudayaan, pengetahuan keluarga, serta persoalan yang berbeda ke dalam kelas.

Pengalaman dari rumah, kampung, gereja, kebun, pasar, sungai, laut, atau lingkungan perkotaan dapat menjadi sumber pertanyaan dan bahan belajar. Pendekatan funds of knowledge menunjukkan bahwa keluarga dan masyarakat menyimpan pengetahuan serta keterampilan yang dapat dihubungkan dengan pembelajaran sekolah (Moll et al., 1992).

Mendengar pengetahuan lokal tidak berarti menerima semuanya tanpa pemeriksaan atau membatasi anak hanya pada dunianya sendiri. Dialog justru mempertemukan pengalaman tersebut dengan ilmu pengetahuan, bukti, pandangan lain, dan nilai kemanusiaan. Sekolah perlu membantu murid berakar pada kehidupannya sekaligus membuka jalan menuju pengetahuan yang lebih luas.

Pendidikan yang Mengembalikan Suara Murid

Mengembalikan suara murid dapat dimulai melalui langkah sederhana: memberi waktu untuk bertanya, meminta alasan di balik jawaban, menghubungkan pelajaran dengan persoalan nyata, dan tidak mempermalukan murid ketika keliru. Guru juga dapat mengajak murid menyelidiki masalah bersama, kemudian menilai bukan hanya jawaban akhirnya, tetapi proses berpikir dan tanggung jawabnya.

Pendidikan yang memanusiakan tidak membuat guru kehilangan kewibawaan. Kewibawaan itu justru tidak lagi bergantung pada kebungkaman murid. Guru dihormati karena mampu membuka jalan menuju pengetahuan, sedangkan murid bertumbuh karena diberi kesempatan menjadi manusia yang berpikir, berbicara, mendengarkan, dan bertindak.

Pada akhirnya, pendidikan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya informasi yang berhasil disimpan dalam kepala murid. Kita perlu bertanya dengan jujur: apakah pendidikan kita sedang membentuk murid yang mampu membaca dan mengubah kenyataan, atau hanya melatih mereka mengulangi pengetahuan yang telah diberikan?

Ruang percakapan

Pesan & komentar

0 tanggapan
Masuk dengan Google untuk berkomentar

Nama dan foto profil diambil dari akun Google setelah identitas berhasil diverifikasi.

Memuat percakapan…

Diizinkan oleh pemilik

Unduh tulisan ini

Simpan untuk dibaca kembali dalam format dokumen yang Anda perlukan.
Word PDF