Ruang Gagasan

John Dewey: Untuk Apa Belajar jika Sekolah Jauh dari Kehidupan?

Ketika pelajaran hanya berakhir pada hafalan dan ujian, sekolah dapat semakin jauh dari kehidupan murid. Bersama John Dewey, tulisan ini mengajak kita melihat bagaimana pengalaman, refleksi, dan kehidupan bersama dapat mengembalikan makna belajar.

Seorang murid belajar dari pengamatan langsung, sejalan dengan pemikiran John Dewey.
Seorang murid belajar dari pengamatan langsung, sejalan dengan pemikiran John Dewey.

John Dewey: Untuk Apa Belajar jika Sekolah Jauh dari Kehidupan?

Seorang murid dapat menghabiskan banyak waktu untuk menghafal rumus, definisi, tanggal, dan nama-nama penting. Ia mungkin berhasil menjawab soal ujian, memperoleh nilai yang baik, dan naik ke tingkat berikutnya. Namun, ketika berhadapan dengan persoalan di sekitarnya, pengetahuan itu belum tentu menolongnya memahami apa yang sedang terjadi atau menentukan apa yang dapat dilakukan.

Pelajaran berlangsung di dalam kelas, sedangkan kehidupan berjalan di luar pagar sekolah. Keduanya seakan-akan berada dalam dunia yang berbeda. Apa yang dipelajari dianggap penting karena akan keluar dalam ujian, bukan karena membantu murid membaca kenyataan. Pertanyaan W.S. Rendra dalam Sajak Sebatang Lisong terasa tepat untuk keadaan ini: “Apakah artinya berpikir bila terpisah dari masalah kehidupan?” (Rendra, 1980).

Pemikiran John Dewey menolong kita memeriksa kembali jarak tersebut. Ia tidak meminta sekolah meninggalkan buku, teori, atau pengetahuan yang telah dibangun manusia. Ia justru ingin agar pengetahuan itu dipertemukan dengan pengalaman, pertanyaan, dan kehidupan bersama. Belajar tidak cukup hanya membuat murid mengetahui sesuatu. Belajar seharusnya memperluas kemampuannya untuk memahami dunia dan bertindak secara lebih cerdas di dalamnya.

Ketika Pelajaran Terasa Asing bagi Murid

Banyak pelajaran menjadi sulit bukan semata-mata karena murid kurang mampu, melainkan karena pengetahuan disampaikan dalam bentuk yang terlalu jauh dari pengalamannya. Guru menjelaskan isi buku, murid mencatat, kemudian keduanya bergerak menuju halaman berikutnya. Pengetahuan telah diberikan, tetapi hubungan antara pengetahuan dan kehidupan belum dibangun.

Akibatnya, murid dapat mengingat jawaban tanpa memahami persoalan yang membuat jawaban itu diperlukan. Ia mengetahui sebuah rumus, tetapi tidak mengenali keadaan ketika rumus tersebut dapat digunakan. Ia dapat menjelaskan arti tanggung jawab, tetapi tidak melihat hubungannya dengan pekerjaan bersama. Ia mengenal istilah lingkungan hidup, tetapi tidak pernah diajak mengamati perubahan yang terjadi di sekitar sekolahnya.

Dewey memahami bahwa susunan pengetahuan seorang ahli berbeda dari cara seorang anak mengenal dunia. Bagi ahli, pengetahuan telah disusun secara sistematis dalam konsep, kategori, dan hubungan yang jelas. Bagi murid, pengetahuan pada awalnya terhubung dengan kegiatan, kebutuhan, tempat, dan pengalaman yang dekat dengannya. Kekeliruan terjadi ketika susunan pengetahuan orang dewasa diberikan kepada anak seolah-olah keduanya telah melihat dunia dengan cara yang sama (Dewey, Democracy and Education, bab XIV).

Karena itu, tugas pendidikan bukan memilih antara pengalaman anak dan pengetahuan dalam buku. Pendidikan perlu membangun jembatan di antara keduanya. Pengalaman menjadi titik awal untuk memasuki pengetahuan yang lebih luas, sedangkan pengetahuan membantu anak memahami pengalamannya secara lebih dalam. Jika jembatan itu tidak dibangun, pelajaran mudah berubah menjadi kumpulan kata yang harus diingat dan dikembalikan ketika ujian.

Pendidikan Berlangsung di Dalam Kehidupan

Dalam My Pedagogic Creed, Dewey menyatakan bahwa pendidikan merupakan proses kehidupan, bukan sekadar persiapan untuk kehidupan yang akan datang. Sekolah seharusnya menghadirkan kehidupan yang nyata dan bermakna bagi anak, sebagaimana kehidupan yang dialaminya di rumah, lingkungan tempat tinggal, dan tempat bermain (Dewey, 1897, artikel II).

Gagasan ini tidak berarti bahwa pendidikan tidak perlu mempersiapkan masa depan. Anak tentu membutuhkan pengetahuan dan kemampuan untuk menghadapi kehidupan yang terus berubah. Namun, masa depan tidak dapat dipersiapkan dengan mengorbankan seluruh arti kehidupan pada masa sekarang. Pengalaman yang dijalani anak hari ini turut membentuk rasa ingin tahu, keberanian, kebiasaan, dan cara berpikir yang akan dibawanya ke masa depan.

Ketika semua kegiatan sekolah dibenarkan hanya dengan kalimat “ini akan berguna nanti,” murid diminta mempercayai suatu masa depan yang masih jauh tanpa mengalami makna belajar pada saat ini. Ia mengerjakan tugas karena takut tidak lulus, membaca karena harus memperoleh nilai, dan mematuhi aturan karena ingin menghindari hukuman. Pendidikan kemudian bergantung pada dorongan dari luar, sementara keinginan untuk memahami perlahan melemah.

Bagi Dewey, sekolah perlu menjadi bentuk kehidupan sosial yang disederhanakan dan ditata sesuai perkembangan anak. Sekolah tidak harus membawa seluruh kerumitan masyarakat ke dalam kelas. Ia memilih pengalaman yang dapat menolong murid memahami kehidupan secara bertahap, aman, dan terarah. Dengan demikian, sekolah bukan tiruan kehidupan di luar, tetapi ruang tempat anak belajar memasuki kehidupan bersama dengan lebih sadar.

Tidak Semua Pengalaman Bersifat Mendidik

Pemikiran Dewey sering disederhanakan menjadi ungkapan “belajar dengan melakukan.” Penyederhanaan ini dapat menimbulkan kesan bahwa setiap kegiatan otomatis menghasilkan pembelajaran. Padahal, Dewey dengan jelas membedakan pengalaman yang mendidik dan pengalaman yang justru menghambat pertumbuhan.

Sebuah pengalaman dapat menyenangkan, tetapi tidak membawa murid kepada pemahaman yang lebih dalam. Kegiatan kelompok dapat terlihat aktif, tetapi hanya dikerjakan oleh satu orang sementara yang lain menunggu. Kunjungan belajar dapat memberi kegembiraan, tetapi segera dilupakan karena tidak disertai pertanyaan dan refleksi. Praktik di kelas juga dapat berubah menjadi kegiatan mengikuti petunjuk tanpa mengetahui alasan di balik setiap langkah.

Dalam Experience and Education, Dewey menyebut pengalaman seperti itu dapat bersifat tidak mendidik apabila membatasi kepekaan, mempersempit kemungkinan belajar berikutnya, atau membentuk kebiasaan yang tidak peduli dan ceroboh. Karena itu, pendidikan melalui pengalaman tidak berarti memberikan kebebasan tanpa arah. Kualitas pengalaman tetap perlu diperiksa berdasarkan pengaruhnya terhadap pertumbuhan selanjutnya (Dewey, 1938, bab II–III).

Dewey menggunakan dua prinsip penting untuk menilai pengalaman: kesinambungan dan interaksi. Kesinambungan berarti bahwa setiap pengalaman membawa sesuatu dari masa lalu dan turut memengaruhi pengalaman berikutnya. Interaksi berarti bahwa belajar berlangsung melalui pertemuan antara keadaan dalam diri murid—kemampuan, kebutuhan, minat, dan kebiasaannya—dengan lingkungan tempat ia belajar.

Pengalaman yang mendidik membuka jalan menuju pengalaman yang lebih luas. Setelah mengikuti suatu kegiatan, murid seharusnya memiliki pertanyaan baru, kemampuan yang berkembang, atau cara pandang yang lebih matang. Jika kegiatan hanya menghabiskan waktu tanpa meninggalkan hubungan yang dapat dilanjutkan, aktivitas tersebut belum tentu menjadi pendidikan.

Belajar dengan Melakukan dan Merefleksikan

Belajar dari pengalaman bukan hanya melakukan sesuatu dengan tangan atau bergerak di luar kelas. Menurut Dewey, pengalaman mengandung tindakan dan akibat. Manusia melakukan sesuatu terhadap dunia, menerima akibat dari tindakannya, lalu memahami hubungan antara keduanya. Refleksi membuat kegiatan berubah menjadi pengalaman yang memiliki makna (Dewey, Democracy and Education, bab XI).

Misalnya, pelajaran tentang air dapat dimulai dari pertanyaan mengenai sumber, penggunaan, kebersihan, atau ketersediaan air di lingkungan yang dikenal murid. Mereka dapat melakukan pengamatan yang aman, mencatat informasi, membandingkan keadaan, membaca penjelasan ilmiah, dan membicarakan akibatnya bagi kehidupan bersama. Pengetahuan tentang air kemudian tidak berhenti sebagai definisi, tetapi digunakan untuk memahami sesuatu yang nyata.

Demikian pula, matematika dapat dipertemukan dengan pengukuran, perbandingan, perencanaan, dan pengolahan data. Bahasa dapat dipelajari melalui kegiatan mendengarkan, membaca, menulis, dan menyampaikan pengalaman secara bertanggung jawab. Sejarah dapat menolong murid memahami hubungan antara peristiwa masa lalu dan keadaan masyarakat hari ini. Setiap mata pelajaran memiliki jalan untuk memasuki kehidupan apabila guru mampu menemukan persoalan yang tepat.

Namun, pengalaman sehari-hari tidak boleh menjadi batas akhir pembelajaran. Jika murid hanya mempelajari apa yang sudah dikenalnya, sekolah tidak memperluas dunianya. Pengalaman awal perlu dituntun menuju konsep, bukti, metode, dan pengetahuan yang belum dimiliki. Dewey menegaskan bahwa pengalaman yang ada harus menjadi titik keberangkatan menuju pengetahuan yang lebih teratur dan lebih luas, bukan alasan untuk mengabaikan isi pelajaran (Dewey, 1938, bab VII).

Di sinilah teori dan praktik saling membutuhkan. Teori tanpa hubungan dengan pengalaman mudah menjadi abstrak. Sebaliknya, pengalaman tanpa teori dapat tetap dangkal dan terbatas. Teori menolong murid melihat pola yang tidak langsung tampak, sedangkan pengalaman memberi tempat bagi teori untuk diuji, dipahami, dan digunakan.

Guru sebagai Penata Pengalaman Belajar

Pendidikan yang dekat dengan kehidupan tidak mengurangi pentingnya guru. Peran guru justru menjadi lebih menuntut. Ia tidak hanya perlu menguasai isi pelajaran, tetapi juga memahami murid, lingkungan, dan kemungkinan hubungan antara pengalaman anak dan pengetahuan yang harus dipelajari.

Guru tidak sekadar menunggu minat murid muncul, lalu mengikuti ke mana pun minat itu bergerak. Minat perlu dibaca sebagai tanda adanya kemampuan yang sedang tumbuh. Tugas guru adalah menyediakan bahan, pertanyaan, tantangan, dan situasi yang dapat membawa kemampuan itu menuju perkembangan yang lebih matang.

Dewey menempatkan guru sebagai orang yang memilih serta menata keadaan tempat pengalaman berlangsung. Cara guru berbicara, bahan yang diberikan, hubungan antarmurid, peralatan yang tersedia, dan suasana sosial kelas turut menentukan kualitas pembelajaran. Kebebasan murid tidak menghapus tanggung jawab guru untuk merencanakan. Justru karena pengalaman memiliki akibat, guru perlu mempertimbangkan ke mana pengalaman itu akan membawa anak (Dewey, 1938, bab III).

Kelas yang hidup bukan kelas tanpa aturan. Murid tetap membutuhkan kedisiplinan, ketekunan, dan kesediaan menyelesaikan pekerjaan. Perbedaannya terletak pada sumber kedisiplinan tersebut. Disiplin tidak hanya datang dari perintah guru, tetapi juga dari tuntutan kegiatan yang memiliki tujuan. Ketika murid mengerjakan sesuatu yang sungguh ingin dipahami atau diselesaikan, ia belajar mengatur waktu, memperbaiki kesalahan, mendengarkan orang lain, dan bertanggung jawab atas hasil kerjanya.

Sekolah sebagai Komunitas Kehidupan

Dewey melihat sekolah sebagai lembaga sosial dan bentuk kehidupan bersama. Anak tidak hanya belajar membaca, berhitung, atau mengenal ilmu pengetahuan. Ia juga belajar hidup dengan orang lain. Cara murid berbicara, bekerja sama, menghadapi perbedaan, membagi tanggung jawab, dan menyelesaikan konflik merupakan bagian dari pendidikan.

Sekolah dapat berbicara panjang tentang demokrasi, tetapi murid tidak akan memahaminya jika kehidupan sekolah tidak memberi ruang untuk mendengar dan didengar. Demokrasi bukan hanya materi yang dipelajari dalam buku kewarganegaraan. Ia juga merupakan kebiasaan hidup bersama: menyampaikan alasan, mempertimbangkan kepentingan orang lain, menerima koreksi, dan mengambil bagian dalam pekerjaan yang menyangkut kebaikan bersama.

Dalam The School and Society, Dewey mengkritik ruang kelas yang seluruh perlengkapannya seakan dibuat hanya agar anak duduk dan mendengarkan. Ia menginginkan sekolah sebagai komunitas kecil tempat murid bekerja, menyelidiki, berkomunikasi, dan belajar melalui hubungan dengan sesama (Dewey, 1900, bab II).

Sekolah tidak dapat mengajarkan kehidupan bersama hanya melalui nasihat. Murid perlu mengalaminya. Mereka perlu memperoleh kesempatan untuk menyumbangkan gagasan, menjalankan tugas, menghadapi akibat dari keputusan, dan memperbaiki kesalahan. Pengetahuan yang dipelajari dalam suasana seperti itu tidak hanya memiliki nilai akademik, tetapi juga membentuk kecakapan sosial dan tanggung jawab moral.

Mendekatkan Sekolah dengan Kehidupan Anak di Papua

Gagasan Dewey memiliki arti penting bagi pendidikan di Papua, tetapi penerapannya tidak boleh dimulai dari anggapan bahwa semua anak Papua memiliki pengalaman yang sama. Kehidupan anak di wilayah pegunungan, pesisir, kepulauan, pedalaman, dan perkotaan dapat berbeda. Bahasa, lingkungan alam, pekerjaan keluarga, serta bentuk kehidupan masyarakatnya juga beragam.

Anak datang ke sekolah dengan pengetahuan yang telah dibentuk melalui keluarga dan lingkungannya. Ia mungkin membawa pengalaman dari kampung, gereja, pasar, kebun, sungai, laut, lingkungan perkotaan, atau honai di komunitas yang mengenalnya. Pengalaman tersebut bukan gangguan yang harus disingkirkan agar pelajaran dapat dimulai. Pengalaman itulah salah satu tempat guru dapat menemukan pertanyaan dan kemampuan yang sedang tumbuh.

Dewey menegaskan bahwa pendidikan berbasis pengalaman menuntut guru mengenal keadaan masyarakat setempat termasuk kondisi fisik, sejarah, ekonomi, dan pekerjaannya agar lingkungan tersebut dapat digunakan sebagai sumber pendidikan (Dewey, 1938, hlm. 40–41). Pendekatan funds of knowledge juga mengingatkan bahwa keluarga dan masyarakat memiliki pengetahuan serta keterampilan yang dapat memperkaya pembelajaran di sekolah (Moll et al., 1992).

Mendekatkan pelajaran kepada kehidupan anak bukan berarti sekadar menempelkan nama benda lokal pada soal yang sebenarnya tetap asing. Pengetahuan masyarakat juga tidak boleh dijadikan hiasan ketika sekolah membutuhkan tema kebudayaan. Kehidupan setempat perlu hadir sebagai sumber pertanyaan, bahan penyelidikan, dan ruang tempat pengetahuan digunakan.

Pelajaran ilmu pengetahuan dapat dimulai dari gejala alam dan persoalan lingkungan yang benar-benar dijumpai murid. Matematika dapat digunakan untuk membaca ukuran, perubahan, jarak, hasil pengamatan, atau data kehidupan sehari-hari. Bahasa dapat menjadi jalan untuk mempertemukan tradisi lisan dengan kemampuan membaca dan menulis. Ilmu sosial dapat menolong murid memahami perubahan dalam masyarakat serta hubungan antara keputusan, kekuasaan, dan kehidupan bersama.

Akan tetapi, menghargai pengalaman lokal tidak berarti menerima setiap pengetahuan dan kebiasaan tanpa pemeriksaan. Pengalaman perlu didialogkan dengan ilmu pengetahuan, bukti, pandangan lain, serta nilai kemanusiaan. Sekolah juga perlu membuka jalan menuju dunia yang lebih luas agar anak tidak dikurung dalam batas lingkungannya sendiri.

Pendidikan yang berakar tidak sama dengan pendidikan yang membatasi. Akar membuat seseorang memiliki tempat untuk bertumbuh, sedangkan pengetahuan memperluas cabang-cabang kehidupannya. Sekolah seharusnya membantu anak mengenal dunia yang lebih luas tanpa membuatnya merasa asing terhadap bahasa, keluarga, dan masyarakat tempat ia berasal.

Mengembalikan Pengetahuan kepada Kehidupan

Mendekatkan sekolah kepada kehidupan bukan berarti menjadikan setiap pelajaran hanya berguna secara praktis atau ekonomi. Kehidupan manusia tidak hanya terdiri atas pekerjaan dan kebutuhan material. Manusia juga membutuhkan imajinasi, seni, sejarah, percakapan, penilaian moral, dan kemampuan memahami pengalaman orang lain.

Karena itu, ukuran manfaat sebuah pelajaran tidak boleh dipersempit menjadi pertanyaan apakah pengetahuan tersebut langsung menghasilkan uang atau pekerjaan. Sebuah karya sastra dapat menolong murid mengenali penderitaan dan harapan manusia. Sejarah dapat memperluas kesadarannya tentang perubahan dan ketidakadilan. Ilmu pengetahuan dapat membentuk kebiasaan memeriksa bukti. Seni dapat membuka ruang untuk mengungkapkan pengalaman yang sulit disampaikan melalui penjelasan biasa.

Nilai, ujian, dan ijazah tetap dapat digunakan. Namun, semuanya seharusnya menjadi bagian dari proses pendidikan, bukan tujuan yang menggantikan pendidikan itu sendiri. Nilai dapat menunjukkan pencapaian tertentu, tetapi tidak sepenuhnya memperlihatkan apakah pengetahuan telah mengubah cara murid melihat, bertanya, bekerja, dan hidup bersama.

Dewey mengingatkan bahwa pembelajaran di sekolah perlu berkesinambungan dengan pembelajaran di luar sekolah. Harus ada hubungan timbal balik di antara keduanya. Jika hubungan itu terputus, pengetahuan sekolah menjadi sulit digunakan dalam kehidupan dan kehilangan daya untuk membentuk karakter (Dewey, Democracy and Education, bab XXVI).

Sekolah tidak perlu meninggalkan ruang kelas untuk menjadi dekat dengan kehidupan. Yang perlu diubah adalah cara pengetahuan dipertemukan dengan pengalaman. Kehidupan dapat masuk melalui pertanyaan murid, persoalan masyarakat, bahan yang dipelajari, kegiatan bersama, dan kesempatan menggunakan pengetahuan. Pada saat yang sama, hasil belajar perlu kembali kepada kehidupan dalam bentuk pemahaman, keputusan, karya, dan tindakan yang lebih bertanggung jawab.

Pada akhirnya, pendidikan tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak materi yang telah disampaikan, tetapi oleh apa yang dapat dilakukan murid dengan pengetahuan tersebut. Karena itu, kita perlu bertanya dengan jujur: apakah sekolah kita menolong murid memahami dan memperbaiki kehidupan yang mereka jalani, atau hanya membuat mereka menghafal pengetahuan yang terasa asing dari dunianya?

Ruang percakapan

Pesan & komentar

0 tanggapan
Masuk dengan Google untuk berkomentar

Nama dan foto profil diambil dari akun Google setelah identitas berhasil diverifikasi.

Memuat percakapan…

Diizinkan oleh pemilik

Unduh tulisan ini

Simpan untuk dibaca kembali dalam format dokumen yang Anda perlukan.
Word PDF