Ruang Gagasan

Arendt: Pendidikan Bukan Melepaskan Tanggung Jawab Orang Dewasa

Ketika kebebasan anak terus dibicarakan, tanggung jawab orang dewasa justru dapat menghilang dari ruang pendidikan. Hannah Arendt mengajak kita memikirkan kembali peran guru, kewibawaan, dan keberanian memperkenalkan dunia kepada anak tanpa menguasai masa depan mereka.

Guru mendampingi murid mengenal dunia sebagai tanggung jawab pendidikan orang dewasa.
Guru mendampingi murid mengenal dunia sebagai tanggung jawab pendidikan orang dewasa.

Hannah Arendt: Pendidikan Bukan Melepaskan Tanggung Jawab Orang Dewasa

Sekolah hari ini sering diminta menjadi lebih ramah terhadap anak. Murid perlu didengarkan, diberi ruang memilih, dan tidak diperlakukan sebagai penerima pengetahuan yang pasif. Perubahan ini penting. Namun, bahasa tentang kebebasan anak dapat menyembunyikan persoalan lain: orang dewasa perlahan mundur dari tanggung jawabnya.

Guru kemudian hanya disebut fasilitator. Murid diminta mencari dan menentukan sendiri. Sekolah mengaku mempersiapkan masa depan, tetapi tidak selalu berani menjelaskan dunia yang sedang diwariskan. Hannah Arendt mengingatkan bahwa menghormati kebaruan anak tidak berarti membiarkannya menghadapi dunia tanpa pendampingan.

Ketika Orang Dewasa Menyerahkan Semuanya kepada Anak

Pendidikan yang berpusat pada murid dapat menjadi koreksi terhadap sekolah yang menekan. Akan tetapi, gagasan itu berubah menjadi pembiaran ketika guru tidak lagi memperkenalkan pengetahuan, menetapkan batas, atau mengoreksi kekeliruan karena takut dianggap menguasai anak.

Tidak semua pilihan dapat diserahkan kepada murid yang belum memperoleh bekal untuk menilai akibatnya. Anak memang mempunyai suara, tetapi ia belum memikul tanggung jawab yang sama dengan orang dewasa. Ketika semua keputusan dikembalikan kepadanya, kebebasan dapat berubah menjadi cara halus untuk meninggalkannya.

Dalam “The Crisis in Education”, Arendt melihat krisis pendidikan sebagai bagian dari krisis kewibawaan orang dewasa. Mereka ingin membebaskan anak dari kekuasaan, tetapi sekaligus enggan bertanggung jawab atas dunia tempat anak itu dibesarkan. Akibatnya, anak seolah-olah dibiarkan membentuk dunianya sendiri, padahal kehidupan mereka tetap dipengaruhi oleh keputusan orang dewasa (Arendt, 2006).

Anak Datang sebagai Manusia Baru ke Dalam Dunia

Bagi Arendt, kelahiran bukan sekadar peristiwa biologis. Setiap anak membawa suatu permulaan baru: kemampuan bertindak, berpikir, dan menghadirkan sesuatu yang belum pernah ada. Karena itulah pendidikan tidak boleh menghasilkan manusia yang hanya mengulang dunia lama.

Namun, kebaruan tersebut hadir dalam dunia yang telah lebih dahulu ada. Anak lahir ke dalam bahasa, sejarah, pengetahuan, lembaga, konflik, dan kebudayaan yang belum dikenalnya. Ia sekaligus manusia baru dan manusia yang sedang bertumbuh. Orang dewasa karena itu memikul tanggung jawab ganda: melindungi pertumbuhan anak dan menjaga dunia agar layak dimasukinya (Arendt, 2006).

Perlindungan tidak berarti mengurung anak dari kenyataan. Sebaliknya, memperkenalkan dunia tidak berarti memaksa anak menerima seluruh warisan orang dewasa tanpa kritik. Pendidikan berlangsung dalam ketegangan antara menjaga dan membuka, antara mewariskan dan mempersiapkan pembaruan.

Mendidik Berarti Memperkenalkan Dunia

Arendt menempatkan sekolah sebagai ruang peralihan antara rumah dan dunia bersama. Sekolah bukan keluarga, tetapi juga belum sepenuhnya kehidupan publik orang dewasa. Di sanalah anak secara bertahap diperkenalkan kepada dunia melalui pengetahuan, peraturan, perjumpaan, dan latihan menilai (Kloeg, 2022).

Karena itu, guru bukan sekadar pendamping proses belajar. Ia mewakili dunia di hadapan murid. Menguasai materi memang diperlukan, tetapi belum cukup. Guru harus mampu mengatakan, dalam pengertian Arendt, “Inilah dunia kita” dunia yang mengandung pencapaian sekaligus ketidakadilan, dan harus dipahami sebelum diperbarui.

Pendidikan yang tidak memberi pengetahuan mudah berubah menjadi percakapan tanpa pijakan. Arendt bahkan mengingatkan bahwa pendidikan tanpa pembelajaran akan menjadi kosong dan merosot menjadi retorika moral atau emosional (Arendt, 2006). Murid tidak dapat diminta berpikir kritis tentang sesuatu yang belum sungguh-sungguh dikenalnya.

Kewibawaan Bukan Kekuasaan untuk Menakut-nakuti

Kewibawaan sering disamakan dengan suara keras, hukuman, atau kepatuhan tanpa pertanyaan. Padahal, bagi Arendt, kewibawaan pendidik berasal dari kesediaannya bertanggung jawab atas dunia, bukan dari kemampuannya menakut-nakuti anak.

Guru yang berwibawa dapat menetapkan batas tanpa mempermalukan, mengoreksi kesalahan tanpa merendahkan, dan menjelaskan alasan tanpa kehilangan ketegasan. Ia tidak berkata, “Turuti saya karena saya lebih kuat,” melainkan menunjukkan bahwa pengetahuan, keselamatan, keadilan, dan kehidupan bersama membutuhkan tanggung jawab.

Ruankool menegaskan bahwa kewibawaan guru dalam pemikiran Arendt tidak harus berlawanan dengan kebebasan murid. Kewibawaan justru diperlukan untuk mempersiapkan anak mencintai dan merawat dunia bersama (Ruankool, 2023). Guru yang selalu memaksakan kehendaknya telah menyalahgunakan kewibawaan. Namun, guru yang takut mengoreksi demi terlihat ramah juga sedang meninggalkan tanggung jawabnya.

Sekolah Tidak Boleh Membebankan Perbaikan Dunia kepada Anak

Arendt menolak penggunaan pendidikan untuk mencetak anak menurut rancangan politik orang dewasa. Anak tidak boleh dijadikan alat bagi cita-cita yang tidak berhasil diwujudkan generasi sebelumnya. Menuntut murid menyelamatkan lingkungan, menghapus kekerasan, merawat toleransi, atau memperbaiki demokrasi terdengar mulia. Namun, tuntutan itu menjadi tidak jujur apabila orang dewasa terus mempertahankan kebijakan dan kebiasaan yang menghasilkan kerusakan tersebut.

Pemikiran ini tidak berarti sekolah harus berpura-pura netral. Pemilihan bahasa pembelajaran, isi kurikulum, sejarah yang diceritakan, dan pengetahuan yang dianggap penting selalu memperlihatkan dunia siapa yang diakui. Karena itu, larangan Arendt terhadap indoktrinasi perlu dibedakan dari larangan membahas ketidakadilan.

Sekolah harus membantu murid mengenali kenyataan secara jujur tanpa menentukan sebelumnya apa yang wajib mereka pikirkan. Tanggung jawab orang dewasa ialah menyediakan fakta, pengetahuan, rasa aman, dan ruang berdialog. Anak kelak dapat memperbarui dunia, tetapi ia tidak boleh dipaksa menanggung kegagalan orang dewasa sebelum sempat memahaminya.

Membaca Arendt dari Ruang Kelas di Papua

Dalam konteks Papua, tanggung jawab orang dewasa tidak cukup dinyatakan melalui nasihat agar anak rajin belajar. Pemerintah, sekolah, guru, keluarga, dan masyarakat harus memastikan kehadiran pendidik, lingkungan belajar yang aman, bahan pembelajaran yang dapat dipahami, serta penghargaan terhadap bahasa dan pengetahuan komunitas.

Penelitian Fiharsono dan rekan-rekannya menunjukkan pentingnya lingkungan sekolah, keterlibatan masyarakat, penggunaan sumber belajar setempat, serta bahasa lokal dalam menumbuhkan rasa memiliki pada murid Orang Asli Papua (Fiharsono et al., 2026). Temuan itu tidak boleh disamaratakan untuk seluruh Papua, tetapi memperlihatkan bahwa anak lebih mudah memasuki dunia sekolah ketika sekolah tidak terlebih dahulu menyangkal dunianya.

Namun, pendidikan kontekstual juga tidak boleh mengurung anak hanya di dalam pengetahuan lokal. Tanggung jawab guru adalah menjadikan pengalaman setempat sebagai jembatan menuju ilmu pengetahuan dan dunia yang lebih luas. Memuji ketabahan anak belajar di tengah kekurangan tanpa memperbaiki kekurangan tersebut bukan penghormatan. Itu adalah cara orang dewasa mengubah ketidakadilan menjadi cerita tentang daya juang anak.

Arendt mengingatkan bahwa mendidik berarti bertanggung jawab atas anak sekaligus atas dunia yang kita serahkan kepadanya. Karena itu, kita perlu bertanya dengan jujur: apakah kita sedang menuntun anak mengenal dan memperbarui dunia, atau membiarkan mereka menanggung persoalan yang seharusnya terlebih dahulu dipertanggungjawabkan oleh orang dewasa?

Ruang percakapan

Pesan & komentar

0 tanggapan
Masuk dengan Google untuk berkomentar

Nama dan foto profil diambil dari akun Google setelah identitas berhasil diverifikasi.

Memuat percakapan…

Diizinkan oleh pemilik

Unduh tulisan ini

Simpan untuk dibaca kembali dalam format dokumen yang Anda perlukan.
Word PDF