Bell Hooks: Ruang Kelas Tidak Boleh Membungkam Suara
Di banyak ruang kelas, murid belajar bahwa keselamatan terletak pada diam. Mereka menunggu guru menjelaskan, mencatat jawaban yang dianggap benar, dan berbicara hanya ketika diminta. Murid yang patuh dipuji, sedangkan murid yang mempertanyakan pelajaran mudah dinilai melawan.
Kelas seperti ini mungkin tertib, tetapi ketertiban tidak selalu berarti pembelajaran berlangsung. Di balik diam dapat tersembunyi ketakutan, kebingungan, perasaan tidak diterima, atau keyakinan bahwa pengalaman murid tidak layak dibicarakan.
Bell Hooks menolak pendidikan yang menjadikan murid sekadar penerima pengetahuan. Baginya, ruang kelas seharusnya menjadi tempat manusia belajar menyadari dirinya, mengenali kekuasaan, dan berbicara dengan tanggung jawab.
Ketika Diam Dianggap sebagai Tanda Belajar
Diam tidak selalu buruk. Murid dapat diam karena sedang mendengarkan, berpikir, atau belum siap berbicara. Persoalannya muncul ketika diam dipaksakan dan dijadikan ukuran kepatuhan. Guru berbicara hampir sepanjang waktu, sementara murid hanya memperoleh hak untuk mengulang apa yang telah dikatakan.
Dalam keadaan demikian, sekolah tidak hanya mengatur giliran bicara. Sekolah juga menentukan bahasa, pengalaman, dan pengetahuan siapa yang dianggap sah. Murid yang fasih menggunakan bahasa sekolah lebih mudah terdengar, sedangkan mereka yang berbicara dengan logat, kosakata, atau cara menyampaikan gagasan yang berbeda dapat dianggap kurang cerdas.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan sekadar berapa banyak murid berbicara, melainkan siapa yang merasa aman untuk berbicara dan siapa yang sejak awal belajar menyembunyikan suaranya.
Pendidikan sebagai Praktik Kebebasan
Dalam Teaching to Transgress, hooks mengembangkan gagasan pendidikan sebagai praktik kebebasan. Pembelajaran tidak cukup memindahkan isi buku ke dalam ingatan murid. Pendidikan perlu membantu murid membaca hubungan antara pengetahuan, pengalaman hidup, dan struktur kekuasaan yang membentuk masyarakat (Hooks, 1994, bab 1).
Hooks menyebut pendekatannya sebagai engaged pedagogy atau pedagogi yang terlibat. Guru dan murid tidak hadir hanya sebagai pikiran yang harus diisi, melainkan sebagai manusia dengan tubuh, sejarah, bahasa, dan keadaan sosial. Ras, kelas, dan gender bukan persoalan tambahan yang dapat disingkirkan dari pembelajaran karena semuanya dapat memengaruhi siapa yang dipercaya, didengar, dan diberi kesempatan.
Namun, pendidikan yang membebaskan bukan pendidikan tanpa arah. Kebebasan tidak tumbuh dengan membiarkan setiap orang berjalan sendiri. Ia memerlukan pengetahuan, dialog, kedisiplinan berpikir, dan keberanian menguji keadaan yang selama ini dianggap wajar.
Suara Murid dan Pengalaman yang Diabaikan
Memberi suara kepada murid bukan sekadar mempersilakan mereka menjawab pertanyaan guru. Murid perlu memperoleh kesempatan membawa pengalaman, pertanyaan, dan penafsirannya ke dalam pembelajaran. Kehidupan mereka bukan gangguan yang harus ditinggalkan di luar kelas.
Hooks menunjukkan bahwa pengalaman dapat membuka bagian-bagian kenyataan yang tidak terlihat dari sudut pandang kelompok dominan. Namun, pengalaman pribadi juga bukan kebenaran yang kebal terhadap pemeriksaan. Ia perlu dipertemukan dengan pengalaman orang lain, pengetahuan yang lebih luas, bukti, dan pertanyaan kritis (Hooks, 1994, bab 6).
Bahasa pun tidak netral. Ketika hanya satu bentuk bahasa dianggap layak untuk menyampaikan pengetahuan, sekolah dapat membungkam murid sebelum gagasannya sempat dipahami (Hooks, 1994, bab 11). Mendengar suara murid berarti mengakui cara mereka berbicara tanpa berhenti membantu mereka menguasai bahasa yang diperlukan untuk memasuki percakapan yang lebih luas.
Kajian tentang student voice mengingatkan bahwa kehadiran suara belum tentu memberikan kekuasaan. Pendapat murid dapat dikumpulkan dan dipajang, tetapi diabaikan ketika keputusan dibuat (Cook-Sather, 2006).
Guru, Kekuasaan, dan Pedagogi yang Terlibat
Guru tidak kehilangan tanggung jawab ketika ruang kelas menjadi lebih dialogis. Ia tetap memilih bahan, mengatur waktu, menilai pekerjaan, dan menentukan batas percakapan. Berpura-pura bahwa guru dan murid memiliki kuasa yang sama justru menyembunyikan ketimpangan yang nyata.
Tugas guru adalah menggunakan kewenangan untuk membuka ruang belajar, bukan melindungi dirinya dari pertanyaan. Ia perlu bersedia memeriksa prasangka, mengakui keterbatasan pengetahuan, dan menerima kemungkinan bahwa murid melihat sesuatu yang tidak dilihatnya. Florence menjelaskan bahwa pedagogi Hooks menghubungkan teori dengan praktik, pemberdayaan murid, pendidikan multikultural, dan pembentukan kesadaran kritis (Florence, 1998).
Akan tetapi, partisipasi juga tidak boleh berubah menjadi paksaan untuk membuka pengalaman pribadi. Murid berhak menentukan batas atas cerita hidupnya. Kelas yang membebaskan harus menyediakan beberapa jalan untuk berpartisipasi seperti berbicara, menulis, bertanya, atau menanggapi tanpa mempermalukan mereka yang belum siap bersuara.
Kebebasan Bersuara Bukan Berarti Semua Pendapat Benar
Hak berbicara tidak membuat setiap pernyataan otomatis benar. Prasangka, penghinaan, dan informasi keliru tidak menjadi layak hanya karena disebut pendapat pribadi. Jika semua ucapan diterima tanpa pemeriksaan, suara yang paling keras kembali menguasai kelas.
Berpikir kritis menuntut murid dan guru mencari alasan, memeriksa bukti, membedakan fakta dari anggapan, serta bersedia mengubah pandangan. Bagi hooks, pemikiran kritis tumbuh dari keterbukaan dan keinginan untuk memahami, bukan dari kebiasaan mempertahankan jawaban sendiri (Hooks, 2010, bab 1–3).
Karena itu, ruang aman bukan ruang tanpa perbedaan. Kelas perlu memungkinkan gagasan dipersoalkan tanpa merendahkan martabat orang yang menyampaikannya. Belajar berbicara harus berjalan bersama belajar mendengarkan dan bertanggung jawab.
Membaca bell hooks dari Ruang Kelas di Papua
Di Papua, persoalan suara berkaitan erat dengan bahasa, kebudayaan, dan pengalaman hidup murid. Anak dapat memahami lingkungan, hubungan sosial, dan pekerjaan komunitasnya, tetapi kesulitan menyampaikannya dalam bahasa yang diwajibkan sekolah. Jika kelancaran berbahasa segera disamakan dengan kecerdasan, sekolah sedang mengukur jarak budaya, bukan semata-mata kemampuan belajar.
Papua juga tidak dapat diperlakukan sebagai satu kebudayaan yang seragam. Setiap komunitas memiliki bahasa, pengetahuan, sejarah, dan keadaan pendidikan yang berbeda. Penelitian mengenai murid Orang Asli Papua menunjukkan pentingnya bahasa lokal, sumber belajar kontekstual, keterlibatan masyarakat, dan lingkungan sekolah yang menumbuhkan rasa memiliki (Fiharsono et al., 2026).
Memberi tempat bagi pengalaman setempat tidak berarti membatasi anak pada dunia yang telah dikenalnya. Pengalaman itu menjadi titik berangkat untuk membaca, menulis, mempelajari ilmu pengetahuan, dan memasuki percakapan yang lebih luas. Penghargaan terhadap suara murid juga tidak dapat menggantikan kebutuhan akan buku, guru terlatih, ruang aman, dan dukungan pendidikan yang memadai.
Bell Hooks mengingatkan bahwa pembungkaman bukan hanya terjadi ketika seseorang dilarang berbicara. Ia juga terjadi ketika seseorang boleh berbicara, tetapi bahasa, pengalaman, dan pikirannya tidak pernah dianggap penting. Karena itu, kita perlu bertanya dengan jujur: apakah ruang kelas kita membantu murid menemukan dan menggunakan suaranya, atau membuat mereka diam sampai bahasa, pengalaman, dan pikirannya sesuai dengan kehendak sekolah?

Memuat percakapan…