Ruang Gagasan

Noddings: Pendidikan Kehilangan Makna ketika Tidak Lagi Peduli

Sekolah dapat menuntaskan kurikulum dan mencatat nilai dengan rapi, tetapi tetap gagal melihat manusia yang belajar. Melalui pemikiran Nel Noddings, tulisan ini mengajak kita memeriksa apakah kepedulian masih menjadi dasar hubungan antara guru, murid, dan lembaga pendidikan.

Guru mendengarkan murid sebagai wujud kepedulian dalam hubungan pendidikan.
Guru mendengarkan murid sebagai wujud kepedulian dalam hubungan pendidikan.

Nel Noddings: Pendidikan Kehilangan Makna ketika Tidak Lagi Peduli

Di banyak sekolah, murid lebih cepat dikenali melalui angka daripada melalui kehidupannya. Guru mengetahui nilai ulangan, jumlah ketidakhadiran, dan pelanggaran tata tertib, tetapi belum tentu mengetahui mengapa seorang anak kehilangan semangat, terus diam, atau tiba-tiba tertinggal.

Sekolah semacam ini dapat terlihat teratur. Kurikulum selesai, laporan dikumpulkan, dan peringkat diumumkan. Namun, pendidikan perlahan kehilangan makna ketika keberhasilan administratif lebih diperhatikan daripada manusia yang sedang belajar.

Nel Noddings mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya kegiatan menyampaikan pengetahuan. Pendidikan berlangsung dalam hubungan: ada seseorang yang memperhatikan dan ada seseorang yang merasakan bahwa dirinya diperhatikan. Tanpa hubungan tersebut, pengajaran mudah berubah menjadi pekerjaan teknis yang mungkin efisien, tetapi dingin.

Ketika Sekolah Sibuk Mengukur tetapi Lupa Memperhatikan

Penilaian diperlukan untuk mengetahui perkembangan belajar. Masalah muncul ketika angka dianggap telah menjelaskan seluruh keadaan murid. Nilai rendah segera dibaca sebagai kemalasan, ketidakhadiran disebut ketidakdisiplinan, dan diam dianggap tidak memahami pelajaran.

Padahal, perilaku yang sama dapat lahir dari keadaan yang berbeda. Seorang murid mungkin tidak mengerjakan tugas karena belum memahami petunjuk, tidak memiliki bantuan, sedang menghadapi persoalan keluarga, atau takut mengakui kesulitannya. Ketika sekolah hanya mencatat hasil tanpa memahami keadaan, penilaian berubah dari alat pendidikan menjadi cara yang rapi untuk mengabaikan anak.

Kepedulian dimulai ketika guru tidak berhenti pada pertanyaan, “Berapa nilainya?” Ia juga bertanya, “Apa yang sedang terjadi pada anak ini, dan bantuan apa yang sungguh dibutuhkannya?”

Pendidikan Berawal dari Hubungan Kepedulian

Dalam Caring, Noddings menjelaskan kepedulian sebagai hubungan antara pihak yang merawat dan pihak yang dirawat. Orang yang peduli memberikan perhatian yang sungguh-sungguh serta membiarkan kebutuhannya untuk sementara diarahkan oleh keadaan orang lain. Hubungan itu memperoleh makna ketika pihak yang menerima kepedulian menanggapi atau mengakuinya (Noddings, 2013).

Gagasan ini membedakan kepedulian dari niat baik sepihak. Guru dapat merasa telah membantu, tetapi murid belum tentu mengalami bantuan itu sebagai kepedulian. Nasihat yang panjang, tugas tambahan, atau teguran keras mungkin dianggap berguna oleh guru, tetapi tidak menjawab kesulitan yang sebenarnya dihadapi murid.

Karena itu, peduli tidak cukup dibuktikan dengan mengatakan, “Saya melakukan ini demi kebaikanmu.” Guru juga perlu memperhatikan tanggapan murid. Kepedulian menuntut kesediaan memeriksa apakah tindakan kita benar-benar menolong atau hanya memaksakan gambaran kita tentang kebutuhan anak.

Mendengarkan Murid, Bukan Sekadar Menilai Jawabannya

Mendengarkan bukan berarti menunggu murid selesai berbicara agar guru dapat segera memberi nasihat. Mendengarkan berarti mencoba memahami gagasan, pengalaman, dan keadaan yang membentuk perkataannya. Di sini, murid diperlakukan sebagai pribadi, bukan sekadar penerima keputusan orang dewasa.

Namun, perhatian semacam ini tidak boleh bergantung pada kedekatan pribadi. Guru mungkin lebih mudah memperhatikan anak yang ramah, berprestasi, atau pandai berbicara. Murid yang kasar, pendiam, sering gagal, atau sulit diajak bekerja sama justru dapat semakin dijauhkan. Etika kepedulian diuji bukan hanya ketika guru berhadapan dengan anak yang menyenangkan, tetapi terutama ketika hubungan menjadi sulit.

Kajian Owens dan Ennis menunjukkan bahwa etika kepedulian dalam pengajaran berkaitan dengan hubungan, kebutuhan murid, lingkungan belajar, serta cara guru mengambil keputusan pedagogis (Owens dan Ennis, 2005). Artinya, kepedulian harus terlihat dalam tindakan, bukan berhenti sebagai watak baik yang diklaim guru.

Peduli Bukan Berarti Membiarkan Semua Hal

Kepedulian mudah disalahartikan sebagai kelembutan tanpa batas. Guru dianggap peduli jika tidak memberi teguran, mengurangi tuntutan, atau selalu mengikuti keinginan murid. Padahal, membiarkan anak terus melakukan sesuatu yang merugikan dirinya dan orang lain bukan bentuk kepedulian.

Guru yang peduli tetap dapat menegakkan aturan, mengoreksi kesalahan, dan meminta murid menyelesaikan pekerjaan. Perbedaannya terletak pada tujuan dan caranya. Disiplin tidak digunakan untuk mempermalukan atau menunjukkan kekuasaan, melainkan untuk membantu anak memahami akibat tindakannya dan belajar bertanggung jawab.

Dalam pendidikan moral, Noddings menekankan empat unsur: keteladanan, dialog, praktik, dan penguatan terhadap gambaran terbaik yang mungkin dicapai seseorang (Noddings, 2002). Nilai kepedulian karena itu tidak cukup diajarkan melalui definisi. Murid perlu mengalaminya dalam hubungan sehari-hari dan memperoleh kesempatan mempraktikkannya.

Ketika Kurikulum dan Target Mengalahkan Hubungan

Guru bekerja di dalam sistem yang menetapkan kurikulum, waktu, administrasi, dan ukuran keberhasilan. Karena itu, tidak adil apabila seluruh tanggung jawab untuk peduli dibebankan kepada pribadi guru, sementara sekolah mempertahankan keadaan yang membuat hubungan sulit dibangun.

Kelas yang terlalu besar, pergantian guru, beban administrasi, dan tekanan menyelesaikan materi dapat mengurangi kesempatan mengenal murid. Seruan agar guru lebih peduli akan terdengar kosong jika lembaga pendidikan terus memperlakukan perhatian sebagai pengorbanan pribadi yang tidak memerlukan waktu dan dukungan.

Noddings mengkritik pendidikan yang terlalu dikuasai standardisasi, persaingan, dan akuntabilitas sempit. Ia menawarkan sekolah yang mengembangkan kekuatan murid dalam lingkungan kepedulian, bukan sekadar memaksa semua anak mengejar ukuran yang sama (Noddings, 2005). Bergman juga menegaskan bahwa pemikiran Noddings menempatkan pemeliharaan cita-cita etis murid sebagai pusat pendidikan moral (Bergman, 2004).

Membaca Noddings dari Ruang Kelas di Papua

Di Papua, kepedulian menuntut kesediaan mengenali bahasa, kebudayaan, keadaan keluarga, dan pengalaman setiap murid. Anak yang belum lancar menggunakan bahasa sekolah tidak boleh segera dianggap tidak mampu. Murid yang jarang hadir juga tidak cukup dipahami melalui daftar ketidakhadiran tanpa mengetahui jarak, keamanan perjalanan, kesehatan, dan keadaan keluarganya.

Papua tidak dapat diperlakukan sebagai satu keadaan yang seragam. Setiap komunitas memiliki bahasa, pengetahuan, lingkungan, dan tantangan pendidikan yang berbeda. Penelitian mengenai murid Orang Asli Papua menunjukkan pentingnya bahasa lokal, sumber belajar kontekstual, keterlibatan masyarakat, dan lingkungan sekolah yang menumbuhkan rasa memiliki (Fiharsono et al., 2026).

Namun, peduli kepada murid Papua bukan berarti mengasihani mereka atau menurunkan mutu pendidikan. Kepedulian justru menuntut sekolah menyediakan pengajaran, buku, guru terlatih, ruang aman, dan bantuan yang memungkinkan anak berkembang. Perhatian pribadi tidak boleh digunakan untuk menutupi ketidakadilan struktural.

Noddings membantu kita melihat bahwa pendidikan kehilangan jiwanya bukan hanya ketika murid gagal memahami pelajaran, tetapi juga ketika mereka merasa tidak penting bagi orang yang mengajar dan lembaga yang menilai mereka. Karena itu, kita perlu bertanya dengan jujur: apakah ruang kelas kita sungguh membuat setiap murid merasa dilihat dan dipedulikan, atau baru memperhatikannya ketika nilai menurun dan aturan dilanggar?

Ruang percakapan

Pesan & komentar

0 tanggapan
Masuk dengan Google untuk berkomentar

Nama dan foto profil diambil dari akun Google setelah identitas berhasil diverifikasi.

Memuat percakapan…

Diizinkan oleh pemilik

Unduh tulisan ini

Simpan untuk dibaca kembali dalam format dokumen yang Anda perlukan.
Word PDF