Sebelum Hidup Menjadi Lupa: Mengapa Kita Perlu Menulis?
Setiap hari, ada sesuatu yang datang lalu pergi dari kehidupan kita: percakapan singkat, perjumpaan yang mengesankan, kegelisahan yang belum terjawab, nasihat yang menguatkan, atau gagasan yang muncul tanpa diduga. Pada saat mengalaminya, kita mungkin merasa akan terus mengingatnya. Namun, seiring berjalannya waktu, detail-detail kecil mulai memudar. Yang dahulu terasa dekat perlahan menjadi samar, bahkan hilang sama sekali.
Persoalannya bukan karena kehidupan kita kekurangan bahan untuk ditulis. Sering kali kita justru tidak menyadari bahwa pengalaman yang tampak biasa dapat menyimpan arti. Kita juga terlalu mudah berpikir bahwa menulis hanya diperuntukkan bagi mereka yang berbakat, berpendidikan tinggi, atau telah dikenal sebagai penulis. Akibatnya, banyak gagasan tidak pernah menemukan bentuk, banyak pengalaman tidak pernah diceritakan, dan banyak pelajaran hidup berhenti hanya dalam ingatan.
Kita menulis bukan karena sudah pandai merangkai kata, melainkan karena tidak ingin kehidupan berlalu tanpa dipahami dan dimaknai. Menulis membantu kita menyelamatkan kenangan, mengenali diri, memberi suara kepada pengalaman, menjangkau orang lain, serta meninggalkan jejak bagi generasi berikutnya.
1. Menulis Menyelamatkan Kenangan dari Kelupaan
Ingatan manusia mempunyai batas. Peristiwa yang hari ini terasa begitu jelas dapat menjadi samar beberapa tahun kemudian. Kita mungkin masih mengenali wajah seseorang, tetapi mulai melupakan percakapan, nasihat, pengorbanan, atau kebaikan yang pernah diberikannya. Waktu tidak selalu menghapus peristiwa sekaligus; ia mengambilnya perlahan-lahan, dimulai dari detail-detail yang kita anggap kecil.
Dalam novel Ibuk, Iwan Setyawan menulis, “Aku menulis untuk menangkap kenangan yang mungkin tak akan mampu tersimpan dalam memoriku. Sebelum diriku usang dan menghilang.” Kutipan ini memperlihatkan bahwa menulis bukan sekadar mencatat kejadian, melainkan usaha mempertahankan sesuatu yang berharga agar tidak lenyap bersama waktu.
Menulis juga mengajak kita berhenti sejenak dan memperhatikan kehidupan dengan lebih sungguh-sungguh. Seno Gumira Ajidarma menggambarkan belajar menulis sebagai proses menangkap momen kehidupan dengan penghayatan yang sedalam mungkin. Untuk menulis, seseorang perlu mengingat, mengamati, dan menimbang arti dari apa yang dialaminya. Dengan demikian, kita tidak sekadar melewati kehidupan, tetapi hadir dan menyadari apa yang sedang terjadi di dalamnya.
Cerita tentang keluarga, pekerjaan, pendidikan, pelayanan, kebudayaan, atau kehidupan masyarakat mungkin terasa biasa bagi orang yang mengalaminya. Namun, ketika waktu telah berlalu, catatan-catatan itulah yang dapat membantu kita memahami siapa diri kita, dari mana kita berasal, dan perjalanan seperti apa yang telah kita tempuh.
2. Menulis Membantu Kita Memahami Diri
Tidak semua yang ada dalam pikiran dapat langsung kita pahami. Kadang-kadang kita merasa gelisah, kecewa, marah, takut, atau berharap, tetapi tidak mengetahui dengan jelas penyebabnya. Pikiran dan perasaan itu bercampur seperti benang kusut. Ketika mulai menulis, kita perlahan menarik satu demi satu benang tersebut dan mencoba melihat hubungan di antaranya.
William Makepeace Thackeray menulis dalam The History of Henry Esmond, “Ada seribu pikiran di dalam diri seseorang yang tidak diketahuinya sampai ia mengambil pena untuk menulis” (terjemahan bebas). Sering kali kita memang baru mengetahui apa yang sesungguhnya kita pikirkan setelah mencoba menuangkannya ke dalam kalimat. Menulis memberi bentuk kepada pikiran yang sebelumnya tidak teratur.
Iwan Setyawan menyampaikan alasan yang lebih singkat: “Aku menulis untuk berkaca.” Bercermin melalui tulisan berarti berani melihat diri dengan jujur bukan hanya kelebihan, melainkan juga kelemahan, luka, keputusan yang keliru, dan bagian-bagian kehidupan yang masih perlu diperbaiki. Menulis dapat menjadi ruang tempat kita bertanya tanpa harus segera mempunyai jawaban.
Karena itu, tidak semua tulisan harus diterbitkan. Ada tulisan yang cukup disimpan dalam buku catatan atau dokumen pribadi. Meskipun tidak pernah dibaca orang lain, tulisan tersebut tetap berarti apabila membantu penulisnya memahami diri, menata perasaan, berdamai dengan masa lalu, atau menemukan arah untuk melangkah.
3. Menulis Memberi Suara dan Menjangkau Orang Lain
Tidak semua orang mempunyai panggung, jabatan, atau kesempatan untuk berbicara di hadapan banyak orang. Ada pengalaman yang tidak terdengar karena berasal dari orang biasa, keluarga sederhana, sekolah kecil, kampung terpencil, atau masyarakat yang jauh dari pusat perhatian. Padahal, pengalaman-pengalaman tersebut dapat menyimpan pengetahuan yang tidak ditemukan di tempat lain.
Seno Gumira Ajidarma menulis dalam Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara, “Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana.” Tulisan memungkinkan suara seseorang melampaui batas tempat dan waktu. Penulis mungkin bekerja dalam sebuah ruangan sederhana, tetapi kata-katanya dapat menjangkau pembaca yang tidak pernah ditemuinya.
Menulis juga dapat menjadi bentuk keberanian ketika seseorang berhadapan dengan ketakutan dan tekanan. Dalam “Puisi di Kamar”, Wiji Thukul menulis, “Aku menulis, aku penulis, terus menulis sekalipun teror mengepung.” Dalam keadaan seperti itu, menulis bukan sekadar kegiatan merangkai kata, melainkan usaha mempertahankan suara agar tidak dilenyapkan oleh ketakutan.
Namun, keberanian menulis harus berjalan bersama tanggung jawab. Tulisan tidak seharusnya digunakan untuk menyebarkan kebohongan, merendahkan orang lain, atau memaksakan sesuatu yang belum terbukti sebagai kebenaran. Suara yang disampaikan melalui tulisan perlu lahir dari kejujuran, kepedulian, dan kesediaan mempertanggungjawabkan setiap kata.
Sebuah tulisan juga tidak harus mengubah dunia secara besar-besaran untuk dianggap berarti. Jika tulisan itu membuat satu orang berpikir kembali, merasa ditemani, memperoleh kekuatan, atau mengambil keputusan yang lebih baik, tulisan tersebut telah menjalankan tugasnya. Nilai tulisan tidak selalu ditentukan oleh jumlah pembaca, tanda suka, atau komentar, tetapi oleh makna yang ditinggalkannya dalam diri pembaca.
4. Menulis Meninggalkan Jejak bagi Generasi Berikutnya
Kita mengenal pemikiran, pergumulan, kebudayaan, dan perjuangan orang-orang terdahulu karena ada yang mencatat dan menuliskannya. Jika mereka memilih diam, banyak pengalaman manusia akan hilang bersama orang-orang yang mengalaminya. Pengetahuan yang hanya disimpan dalam pikiran mempunyai batas usia, sedangkan pengetahuan yang dituliskan dapat melanjutkan perjalanan.
Dalam Rumah Kaca, Pramoedya Ananta Toer menuliskan dua gagasan yang sering dipadukan menjadi satu kutipan. Gagasan pertama berbunyi, “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Pada bagian yang berkaitan muncul gagasan lainnya: “Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
Keabadian yang dimaksud tentu bukan berarti penulis tidak akan dilupakan sama sekali. Tidak semua tulisan akan menjadi buku terkenal atau dibaca lintas generasi. Namun, melalui tulisan, sebagian kecil dari cara kita melihat, memikirkan, dan memaknai kehidupan dapat terus berbicara setelah kita tidak lagi berada di sana.
Warisan tulisan juga tidak harus berupa karya besar. Catatan seorang guru tentang pendidikan, kesaksian iman, cerita perjuangan orang tua, sejarah kampung, kearifan budaya, atau pengalaman melayani masyarakat dapat menjadi sumber pengetahuan yang berharga. Ketika pengalaman pribadi dituliskan dengan jujur dan bertanggung jawab, ia tidak lagi berhenti sebagai milik seseorang, tetapi dapat menjadi pelajaran bagi banyak orang.
5. Jangan Menunggu Sempurna untuk Memulai
Salah satu penghalang terbesar dalam menulis adalah keinginan untuk langsung menghasilkan tulisan yang sempurna. Kita ingin kalimat pertama terdengar indah, setiap paragraf tersusun rapi, dan seluruh gagasan segera mengalir. Ketika hal itu tidak terjadi, kita merasa tidak berbakat, lalu berhenti sebelum benar-benar memulai.
Dalam wawancaranya dengan The Paris Review, John Steinbeck memberikan nasihat agar penulis menuangkan seluruh gagasannya terlebih dahulu tanpa terus-menerus berhenti untuk mengoreksi. Pesannya sederhana: biarkan tulisan pertama selesai, kemudian perbaiki susunan, pilihan kata, dan kelemahannya. Tulisan yang belum sempurna masih dapat disunting, sedangkan tulisan yang tidak pernah dimulai tidak dapat diperbaiki.
Stephen King menyampaikan gagasan serupa dalam On Writing: “Jika ingin menjadi penulis, ada dua hal yang harus dilakukan: banyak membaca dan banyak menulis. Tidak ada jalan pintas” (terjemahan bebas). Membaca memperluas pengetahuan dan memperkaya cara kita menggunakan bahasa, sedangkan menulis melatih kita mengolah semua yang diketahui menjadi suara sendiri.
Karena itu, mulailah dari sesuatu yang kecil. Tuliskan satu pengalaman hari ini, satu pertanyaan yang mengganggu pikiran, satu pelajaran dari kegagalan, atau satu hal yang membuat kita bersyukur. Jangan terlebih dahulu memikirkan apakah tulisan itu akan menjadi buku atau dibaca banyak orang. Selesaikan satu paragraf, kemudian lanjutkan dengan paragraf berikutnya.
Tulislah, Sebelum Semuanya Menghilang
Kita tidak harus menjadi penulis terkenal untuk mulai menulis. Kita hanya perlu menyadari bahwa kehidupan yang kita jalani, pertanyaan yang kita pikirkan, dan pelajaran yang kita temukan mempunyai arti. Tidak semua tulisan akan diterbitkan dan tidak semuanya akan dibaca banyak orang. Namun, setiap tulisan yang jujur telah menyelamatkan sesuatu agar tidak hilang begitu saja.
Menulis adalah cara kita menghormati kehidupan: menjaga kenangan, memahami diri, menyuarakan pengalaman, menjangkau orang lain, dan meninggalkan jejak bagi mereka yang datang kemudian. Karena itu, jangan menunggu sampai merasa pandai. Ambillah pena, bukalah halaman kosong, dan mulailah dari satu kalimat.
Jika pengalaman, pemikiran, dan pelajaran hidup kita hari ini tidak pernah dituliskan, jejak apakah yang akan kita tinggalkan bagi mereka yang datang setelah kita?

Memuat percakapan…