Ruang Gagasan

Ketika Murid Berhenti Bertanya, Pendidikan Kehilangan Jiwanya

Ruang kelas yang tenang belum tentu menandakan pendidikan sedang hidup. Melalui pemikiran Socrates, tulisan ini mengajak kita melihat kembali keberanian murid untuk bertanya serta peran guru dalam menuntun pencarian pengetahuan yang jujur dan bermakna.

Ilustrasi: Murid berani bertanya ketika guru membuka ruang dialog dan berpikir kritis.
Ilustrasi: Murid berani bertanya ketika guru membuka ruang dialog dan berpikir kritis.

Ketika Murid Berhenti Bertanya, Pendidikan Kehilangan Jiwanya

Ada ruang kelas yang tampak tertib, tetapi sebenarnya sedang kehilangan kehidupan. Guru berbicara, murid mencatat, kemudian pelajaran diakhiri dengan tugas dan ujian. Tidak ada perdebatan, tidak ada keberatan, dan hampir tidak terdengar pertanyaan. Keadaan seperti itu sering dianggap sebagai keberhasilan karena murid terlihat patuh dan pembelajaran berjalan sesuai rencana. Namun, apakah ketertiban selalu menandakan bahwa proses pendidikan sedang berlangsung?

Pendidikan seharusnya tidak hanya membuat anak mampu mengingat jawaban, tetapi juga berani memeriksa alasan di balik setiap jawaban. Di sinilah pemikiran Socrates tetap penting untuk dibicarakan. Ia mengingatkan kita bahwa pengetahuan tidak dimulai dari kepuasan karena merasa sudah tahu, melainkan dari keberanian mengakui bahwa masih ada sesuatu yang belum kita pahami (Plato, Apology 21b–23b).

Keberanian Mengakui Ketidaktahuan

Socrates hidup di Athena pada abad kelima sebelum Masehi. Ia tidak meninggalkan tulisan sendiri. Pemikirannya terutama dikenal melalui dialog-dialog yang ditulis oleh Plato dan beberapa sumber lain (Nails dan Monoson, 2022). Dalam berbagai percakapan, Socrates tidak tampil sebagai orang yang sibuk memberikan ceramah panjang. Ia justru mengajukan pertanyaan demi pertanyaan kepada orang-orang yang merasa telah memahami keadilan, keberanian, kebajikan, dan kebenaran.

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan dimaksudkan untuk mempermalukan seseorang. Socrates ingin memperlihatkan bahwa sesuatu yang dianggap telah dipahami ternyata belum tentu memiliki dasar yang kuat. Seseorang dapat berbicara panjang tentang keadilan, misalnya, tetapi kebingungan ketika diminta menjelaskan apa yang membuat suatu tindakan benar-benar adil. Melalui dialog seperti itu, kesadaran akan ketidaktahuan menjadi pintu masuk menuju pengetahuan yang lebih jujur (Nails dan Monoson, 2022).

Dalam pendidikan, mengakui ketidaktahuan sering dianggap sebagai kelemahan. Murid takut berkata bahwa ia belum mengerti karena khawatir dianggap bodoh dan takut dimarahi guru karena guru sudah menjelaskan berkali-kali, tetapi siswa masih saja bertanya. Guru pun kadang merasa harus mengetahui semua jawaban agar kewibawaannya tidak berkurang. Padahal, mengatakan “saya belum tahu” dapat menjadi awal dari pencarian bersama yang lebih bermakna daripada memberikan jawaban yang belum tentu benar.

Ruang Kelas yang Dipenuhi Jawaban

Banyak ruang kelas terlalu sibuk memberikan jawaban sebelum murid sempat merumuskan pertanyaan. Buku pelajaran menyediakan definisi, guru menjelaskan isinya, lalu murid diminta menghafal dan mengulangnya dalam ujian. Nilai yang tinggi kemudian dipakai sebagai ukuran keberhasilan, meskipun belum tentu menunjukkan bahwa murid sungguh-sungguh memahami apa yang dipelajarinya.

Akibatnya, belajar dapat berubah menjadi kegiatan mengumpulkan jawaban. Murid mengetahui apa yang harus ditulis agar memperoleh nilai, tetapi tidak selalu mengerti mengapa jawaban itu benar. Mereka mungkin mampu menyebutkan suatu konsep, rumus, tanggal, atau nama tokoh, tetapi kesulitan menghubungkannya dengan kehidupan. Pengetahuan berada di kepala, tetapi tidak menolong mereka membaca kenyataan (Freire, 1996, bab 2).

Pada ranah inilah, Socrates mengajak pendidikan bergerak lebih dalam. Jawaban tidak harus diterima hanya karena tercetak di dalam buku atau disampaikan oleh orang yang memiliki otoritas. Jawaban perlu diperiksa melalui pertanyaan-pertanyaan yang mendorong pemikiran lebih lanjut: Apa maksudnya? Mengapa kita mempercayainya? Apa alasannya? Apakah ada pandangan lain? Apa akibatnya jika gagasan itu diterapkan? Dengan demikian, pertanyaan tidak hanya berfungsi untuk memperoleh jawaban “ya” atau “tidak”, tetapi juga dapat dijawab dengan pertanyaan yang dapat membuka ruang untuk memahami suatu persoalan secara lebih mendalam. Pertanyaan semacam ini membuat pengetahuan tidak berhenti sebagai hafalan.

Bertanya Bukan Berarti Melawan

Dalam sebagian lingkungan pendidikan, murid yang banyak bertanya kadang dianggap mengganggu, menantang, atau tidak menghormati guru. Pertanyaan yang berbeda dari isi buku juga dapat dicurigai sebagai bentuk ketidakpatuhan. Akibatnya, anak belajar bahwa cara paling aman berada di dalam kelas adalah diam, mencatat, dan tidak memperlihatkan keraguan.

Padahal, bertanya tidak selalu berarti melawan. Pertanyaan dapat lahir dari rasa ingin tahu, kebingungan yang jujur, atau keinginan untuk memahami sesuatu dengan lebih baik. Bahkan pertanyaan yang keliru tetap dapat menjadi kesempatan bagi guru untuk mengetahui cara berpikir murid. Dari sana, guru dapat memperbaiki kesalahpahaman dan menuntun mereka menemukan alasan yang lebih kuat.

Tentu saja, pendidikan tidak cukup hanya dengan membiarkan setiap orang bertanya tanpa arah. Pertanyaan juga perlu didisiplinkan oleh alasan, bukti, dan kesediaan untuk dikoreksi. Semangat Socrates bukanlah meragukan segala sesuatu tanpa tujuan, melainkan memeriksa pemikiran dengan jujur agar manusia tidak mudah dikuasai oleh prasangka, informasi palsu, dan keyakinan yang tidak pernah diuji.

Guru yang Menuntun Murid Berpikir

Pemikiran Socrates tidak membuat peran guru menjadi tidak penting. Justru guru semakin dibutuhkan, bukan semata-mata sebagai pemberi informasi, melainkan sebagai penuntun proses berpikir. Guru menolong murid membedakan pertanyaan yang penting dan yang tidak relevan, mengenali alasan yang lemah, mempertimbangkan sudut pandang lain, dan berani memperbaiki kesimpulan.

Kewibawaan guru tidak berkurang ketika murid diberi kesempatan bertanya. Kewibawaan itu justru menjadi lebih dewasa karena tidak bergantung pada ketakutan murid. Guru dihormati bukan hanya karena memiliki jabatan atau menguasai buku pelajaran, tetapi karena mampu menciptakan ruang belajar yang aman, jujur, dan terbuka bagi pencarian kebenaran.

Dalam ruang kelas seperti itu, guru dapat bertanya, “Mengapa kamu berpikir demikian?”, “Apa dasar dari jawabanmu?”, atau “Adakah kemungkinan lain?” Pertanyaan sederhana tersebut mendorong murid keluar dari kebiasaan menjawab secara terburu-buru. Mereka belajar bahwa berpikir bukan sekadar menemukan jawaban, tetapi juga menjelaskan alasan dan bersedia menguji kembali pendapatnya.

Mendengarkan Pengetahuan yang Dibawa Anak

Pemikiran Socrates juga penting bagi pendidikan di Papua. Anak tidak datang ke sekolah sebagai wadah kosong. Ia membawa bahasa, pengalaman keluarga, kehidupan kampung, lingkungan alam, tradisi lisan, serta pengetahuan yang diperoleh dari orang tua dan masyarakatnya. Di berbagai komunitas, pengalaman dari honai, gereja, kebun, dan kehidupan bersama menjadi bagian dari cara anak memahami dunia (Moll et al., 1992).

Jika sekolah hanya menganggap pengetahuan dalam buku sebagai sesuatu yang berharga, pengalaman anak dapat tersingkir dari proses pembelajaran. Murid kemudian diminta mengenal dunia yang jauh, tetapi tidak selalu ditolong untuk memahami kenyataan di sekitarnya. Pendidikan seperti ini berisiko membuat anak merasa bahwa bahasa, kebudayaan, dan pengalaman hidupnya tidak memiliki tempat di ruang kelas.

Memberi ruang kepada pengetahuan lokal bukan berarti menerima semuanya tanpa pemeriksaan. Pengetahuan itu tetap perlu didialogkan, dikritisi, dan dipertemukan dengan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai kemanusiaan. Namun, dialog hanya dapat terjadi jika guru bersedia mendengar dan murid berani berbicara. Pertanyaan menjadi jembatan antara pengetahuan dari rumah, pengalaman masyarakat, dan pelajaran yang diberikan sekolah.

Menghidupkan Kembali Jiwa Pendidikan

Menghidupkan pertanyaan di ruang kelas tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Guru dapat memulainya dengan memberi waktu kepada murid untuk berpikir, tidak menertawakan jawaban yang salah, dan menghargai pertanyaan yang jujur. Setelah menjelaskan pelajaran, guru tidak hanya perlu bertanya apakah murid sudah mengerti, tetapi juga bagian mana yang masih membingungkan dan alasan apa yang membuat mereka setuju atau tidak setuju.

Sekolah memang perlu mengajarkan pengetahuan, keterampilan, dan kedisiplinan. Namun, semua itu belum cukup apabila murid tidak dilatih untuk berpikir. Dunia di luar sekolah dipenuhi oleh informasi, kepentingan, janji politik, propaganda, dan berbagai klaim kebenaran. Anak yang hanya dibiasakan menerima jawaban akan mudah mengikuti suara yang paling keras. Sebaliknya, anak yang terbiasa bertanya akan belajar memeriksa sebelum mempercayai.

Warisan Socrates bagi pendidikan bukan sekadar sebuah metode mengajar. Ia mengingatkan bahwa manusia perlu menjalani kehidupan dengan kesadaran, kerendahan hati intelektual, dan keberanian memeriksa apa yang dianggap benar. Pendidikan kehilangan jiwanya ketika pertanyaan dibungkam, sebab pada saat itulah murid berhenti menjadi pencari pengetahuan dan hanya menjadi penerima jawaban.

Karena itu, pertanyaan terpenting bagi kita bukan hanya apakah anak-anak telah menguasai materi pelajaran. Kita perlu bertanya dengan lebih jujur: apakah pendidikan kita sedang membentuk manusia yang mampu berpikir dan mencari kebenaran, atau hanya melatih anak-anak untuk mengulangi jawaban yang telah disediakan?

Ruang percakapan

Pesan & komentar

0 tanggapan
Masuk dengan Google untuk berkomentar

Nama dan foto profil diambil dari akun Google setelah identitas berhasil diverifikasi.

Memuat percakapan…

Diizinkan oleh pemilik

Unduh tulisan ini

Simpan untuk dibaca kembali dalam format dokumen yang Anda perlukan.
Word PDF