Célestin Freinet: Murid Harus Memiliki Suara di Kelas
Di banyak ruang kelas, murid memang berbicara, tetapi terutama untuk menjawab pertanyaan yang telah disusun guru. Mereka diminta mengulang penjelasan, melengkapi kalimat, atau memilih jawaban yang benar. Suara terdengar, tetapi arah pembicaraan tetap sepenuhnya berada di tangan orang dewasa.
Kelas seperti ini dapat tampak interaktif. Namun, interaksi belum tentu berarti partisipasi. Murid boleh berbicara tanpa sungguh-sungguh diberi kesempatan membawa pengalaman, pertanyaan, bahasa, dan pandangannya ke dalam pembelajaran.
Célestin Freinet menantang kekuasaan guru atas kata-kata di kelas. Pendidikan baginya perlu memberi anak kesempatan untuk mengungkapkan diri, menghasilkan pekerjaan yang bermakna, dan ikut mengatur kehidupan bersama. Murid bukan hanya penerima pelajaran, melainkan anggota komunitas yang memiliki sesuatu untuk dikatakan.
Ketika Kelas Hanya Dipenuhi Suara Guru
Guru memang perlu menjelaskan, memberikan arah, dan memperkenalkan pengetahuan yang belum dikenal murid. Persoalan muncul ketika penjelasan menjadi satu-satunya jalan belajar. Guru berbicara, murid mencatat, lalu pemahaman diukur dari kemampuan mengembalikan kata-kata yang sebelumnya diberikan.
Dalam kelas semacam itu, diam mudah dianggap sebagai perhatian dan kepatuhan dianggap sebagai keberhasilan. Padahal, murid dapat diam karena bingung, takut salah, tidak memahami bahasa pengantar, atau merasa pengalamannya tidak penting. Freinet menolak pengajaran yang bergantung pada perintah dan penjelasan tanpa henti. Ia menghendaki pendidikan yang memberi anak pilihan serta prakarsa individual dan bersama di dalam kehidupan kelas (Freinet, 1964).
Teks Bebas: Pengalaman Anak Layak Menjadi Bahan Belajar
Salah satu teknik yang dikembangkan Freinet adalah teks bebas. Murid menulis tentang sesuatu yang benar-benar ingin disampaikannya: peristiwa, pengamatan, pertanyaan, pekerjaan keluarga, lingkungan, atau gagasan yang sedang dipikirkan. Tulisan tersebut kemudian dapat dibaca, dibicarakan, diperbaiki, dan dikembangkan bersama (Freinet, 1990, hlm. 11–37).
Teks bebas bukan berarti tulisan dibiarkan tanpa tuntunan. Ejaan, susunan kalimat, ketepatan informasi, dan kejelasan gagasan tetap perlu dipelajari. Perbedaannya terletak pada titik berangkatnya: bahasa dipelajari untuk memperjelas sesuatu yang hendak dikatakan murid, bukan sekadar untuk memenuhi latihan yang tidak memiliki hubungan dengan kehidupannya.
Namun, kebebasan dapat berubah menjadi kepalsuan apabila guru hanya memilih tulisan yang paling rapi atau memperbaikinya sampai suara anak menghilang. Pemilihan bersama juga perlu dijaga agar tulisan murid yang pendiam, belum lancar, atau menggunakan bentuk bahasa berbeda tidak terus-menerus disisihkan.
Menulis untuk Pembaca Nyata, Bukan Hanya untuk Nilai
Freinet membawa mesin cetak ke kelas dan mengembangkan surat kabar sekolah serta korespondensi antarsekolah. Dengan cara itu, tulisan murid tidak berhenti di meja guru. Tulisan memiliki pembaca nyata: teman, keluarga, masyarakat, atau murid dari sekolah lain. Percetakan menjadi bagian dari upaya menghubungkan pekerjaan kelas dengan komunikasi dan kehidupan sosial (Acker, 2007).
Ketika tulisan akan dibaca orang lain, ketepatan bahasa memperoleh alasan yang nyata. Murid belajar menyunting bukan hanya untuk menghindari nilai buruk, tetapi agar pembaca memahami maksudnya. Meski demikian, alat tidak otomatis menciptakan demokrasi. Majalah dinding, buletin, atau media digital tetap dapat menjadi panggung guru apabila tema, isi, dan keputusan akhir selalu ditentukan dari atas.
Belajar melalui Kerja Sama dan Hubungan dengan Kehidupan
Bagi Freinet, belajar perlu tumbuh melalui pekerjaan yang memiliki tujuan. Murid mengamati lingkungan, mengumpulkan informasi, menulis, mencetak, berkirim surat, dan menyelesaikan persoalan bersama. Pendidikan melalui kerja bukan sekadar membuat anak sibuk, melainkan mempertemukan pemikiran dengan tindakan serta pengetahuan dengan kehidupan (Freinet, 1993).
Kerja sama juga tidak sama dengan membagi murid ke dalam kelompok. Dalam kelompok yang tidak diatur secara adil, anak yang percaya diri dapat menguasai pembicaraan, sementara yang lain hanya menyalin atau menjalankan tugas kecil. Kerja sama mendidik apabila setiap anak memperoleh kesempatan bertanya, mengusulkan, menolak, mencoba, dan mempertanggungjawabkan bagiannya.
Karena itu, suara murid tidak hanya berkaitan dengan kebebasan berbicara. Suara juga menyangkut hak untuk terlibat dalam keputusan tentang pekerjaan, aturan, penggunaan alat, pembagian tanggung jawab, dan penyelesaian persoalan kelas.
Kebebasan Bersuara Bukan Berarti Kelas Tanpa Arah
Freinet tidak menyamakan kebebasan dengan keadaan tanpa aturan. Ia justru menegaskan bahwa kelas yang menjalankan beragam kegiatan membutuhkan organisasi dan disiplin yang kuat. Namun, ketertiban tersebut tidak dibangun dari ancaman dan tubuh yang dipaksa diam, melainkan dari pekerjaan yang dipahami serta aturan yang ikut dimiliki murid.
Dalam pandangannya, kerja sama sekolah berarti pengelolaan kehidupan dan pekerjaan kelas oleh para penggunanya, termasuk guru. Demokrasi tidak cukup diajarkan sebagai materi kewarganegaraan; anak perlu mengalaminya dalam kehidupan sekolah (Freinet, 1964).
Kajian tentang student voice juga mengingatkan bahwa mendengarkan murid belum cukup jika pendapat mereka tidak pernah memengaruhi tindakan orang dewasa. Murid perlu dipandang sebagai pemilik perspektif yang layak ditanggapi dan diberi kesempatan ikut membentuk pendidikannya (Cook-Sather, 2006). Tanpa perubahan dalam pembagian keputusan, “suara murid” mudah menjadi upacara partisipasi yang tidak mengurangi kekuasaan guru.
Membaca Freinet dari Ruang Kelas di Papua
Di Papua, teks bebas dapat membuka ruang bagi murid untuk menulis dari bahasa, lingkungan, pekerjaan keluarga, cerita, dan persoalan yang mereka kenal. Surat kabar kelas dapat memuat pengamatan terhadap kebun, pasar, hutan, kampung, atau kehidupan kota sesuai keadaan masing-masing komunitas. Bahan tersebut kemudian dapat dikembangkan menuju pembelajaran bahasa, matematika, ilmu pengetahuan, sejarah, dan kehidupan sosial.
Namun, Papua tidak dapat diperlakukan sebagai satu lingkungan budaya yang seragam. Penelitian pada tiga konteks sekolah dasar yang berbeda menunjukkan pentingnya bahasa lokal, keterlibatan masyarakat, sumber belajar kontekstual, dan lingkungan yang menumbuhkan rasa memiliki pada murid Orang Asli Papua (Fiharsono et al., 2026).
Jika sekolah hanya mengakui bahasa resmi dan pengalaman yang terdapat dalam buku pelajaran, murid dapat dinilai tidak mampu hanya karena pengetahuannya belum memperoleh jalan untuk diungkapkan. Sebaliknya, pendidikan kontekstual juga tidak boleh mengurung anak pada dunia yang sudah dikenalnya. Pengalaman setempat perlu menjadi titik berangkat untuk memasuki pengetahuan dan percakapan yang lebih luas.
Teknik Freinet tidak harus bergantung pada mesin cetak. Tulisan tangan, majalah dinding, lembar yang digandakan, rekaman suara, atau media digital dapat digunakan sesuai keadaan. Akan tetapi, kreativitas guru tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan sekolah yang kekurangan buku, alat, ruang aman, dan dukungan pendidikan.
Freinet membantu kita melihat bahwa siapa yang berbicara dan siapa yang menentukan pembicaraan merupakan persoalan pendidikan sekaligus kekuasaan. Karena itu, kita perlu bertanya dengan jujur: apakah kelas kita sungguh memberi murid ruang untuk menyampaikan pengalaman, mengambil keputusan, dan ikut membentuk pembelajaran, atau suara mereka hanya terdengar ketika menjawab pertanyaan guru?

Memuat percakapan…