Ruang Gagasan

Driyarkara: Mendidik Berarti Memanusiakan Manusia

Sekolah dapat menghasilkan murid berprestasi tanpa sungguh mengenal dan menghargai mereka. Melalui pemikiran Driyarkara, tulisan ini mengajak kita memeriksa kembali apakah pendidikan sedang menolong anak bertumbuh sebagai manusia utuh atau sekadar memenuhi ukuran keberhasilan.

Guru mendampingi para siswa sebagai pribadi yang bertumbuh melalui pendidikan.
Guru mendampingi para siswa sebagai pribadi yang bertumbuh melalui pendidikan.

Driyarkara: Mendidik Berarti Memanusiakan Manusia

Di banyak sekolah, murid mudah berubah menjadi angka. Mereka hadir sebagai nilai rapor, peringkat, persentase kelulusan, atau data yang harus memenuhi target. Ketika nilainya tinggi, anak dianggap berhasil. Ketika tertinggal, ia cepat disebut malas atau tidak mampu. Pertanyaan tentang siapa dirinya, apa yang sedang dihadapinya, dan bagaimana martabatnya diperlakukan sering berada di luar laporan pendidikan.

Driyarkara mengajak kita kembali kepada pertanyaan yang lebih mendasar: untuk apa manusia dididik? Pendidikan tidak cukup membuat seseorang mengetahui lebih banyak. Ia harus menolong manusia muda menjadi semakin manusiawi. Jika pengetahuan bertambah, tetapi kebebasan berpikir, tanggung jawab, dan penghormatan kepada sesama justru menyusut, sekolah mungkin berhasil mengajar, tetapi gagal mendidik.

Ketika Sekolah Lebih Sibuk Mengukur daripada Mengenal Murid

Nilai, ujian, dan ketertiban memang diperlukan. Masalah muncul ketika semuanya dijadikan ukuran tunggal. Murid yang cepat menghafal dipuji, sementara anak yang membutuhkan cara belajar berbeda dianggap sebagai beban. Sekolah lalu memilih apa yang mudah dihitung dan mengabaikan pertumbuhan yang tidak segera tampak: keberanian bertanya, kejujuran mengakui kesalahan, kepedulian, dan kemampuan mengambil keputusan.

Driyarkara menyebut pendidikan sebagai pengangkatan manusia muda ke taraf insani. “Manusia muda” bukan manusia yang kurang berharga, melainkan pribadi yang sedang bergerak menuju keutuhan. Karena itu, murid tidak boleh diperlakukan sebagai bahan mentah yang dapat dibentuk menurut kepentingan sekolah, keluarga, pasar kerja, atau negara. Ia adalah subjek yang harus ditolong agar kelak mampu menjalankan hidupnya sendiri sebagai manusia (Driyarkara, 1980, hlm. 78–80).

Manusia Lahir, tetapi Belum Selesai Menjadi Manusia

Seorang anak telah menjadi manusia sejak dilahirkan, tetapi kemanusiaannya tidak berkembang dengan sendirinya. Driyarkara menjelaskan proses ini melalui hominisasi dan humanisasi. Hominisasi menunjuk proses menjadi manusia pada taraf dasar, sedangkan humanisasi membawa manusia bertumbuh lebih jauh melalui kebudayaan, nilai, kebebasan, dan tanggung jawab (Driyarkara, 2006, hlm. 364–369).

Perbedaan itu penting. Bertambah usia tidak otomatis membuat seseorang semakin manusiawi. Kecerdasan juga tidak menjamin bahwa pengetahuan akan digunakan secara benar. Murid dapat memperoleh nilai tinggi sambil merendahkan temannya; sekolah dapat menghasilkan lulusan terampil yang tidak peduli kepada ketidakadilan. Pendidikan baru memiliki arah kemanusiaan ketika kemampuan berjalan bersama hati nurani dan kesediaan bertanggung jawab. Kajian Aziz menegaskan bahwa gagasan hominisasi dan humanisasi mengarahkan pendidikan pada proses sadar untuk membentuk manusia yang mampu membudayakan dirinya (Aziz, 2016).

Mendidik adalah Perjumpaan Antarmanusia

Pendidikan tidak hanya berlangsung ketika guru menerangkan pelajaran. Cara guru mendengarkan jawaban, mengoreksi kesalahan, membagi perhatian, dan menghadapi murid yang tertinggal juga mendidik. Driyarkara melihat pendidikan tumbuh dalam hidup bersama dan pergaulan antarmanusia. Bahkan pengajaran selalu membawa pengaruh pendidikan karena di dalamnya terdapat nilai dan gambaran tentang manusia (Driyarkara, 2006, hlm. 415–423).

Jika guru melihat murid hanya sebagai objek yang harus patuh, pendidikan berubah menjadi penguasaan. Anak mungkin diam, tetapi diam karena takut. Ia mungkin mengikuti perintah, tetapi tidak belajar menilai tindakannya sendiri. Sebaliknya, mengakui murid sebagai subjek bukan berarti guru melepaskan tanggung jawab. Guru tetap menuntun, memperkenalkan pengetahuan, dan memperbaiki kekeliruan, tetapi tidak merampas hak murid untuk bertumbuh menjadi dirinya sendiri.

Wibawa Guru Bukan Kekuasaan untuk Menundukkan

Wibawa pendidikan tidak sama dengan kemampuan membuat kelas ketakutan. Guru yang mempermalukan murid mungkin segera memperoleh keheningan, tetapi keheningan itu dibayar dengan luka dan hilangnya keberanian belajar. Hukuman yang mempertontonkan kuasa orang dewasa tidak sedang memanusiakan; ia mengajarkan bahwa pihak yang kuat berhak merendahkan pihak yang lemah.

Namun, bahasa “memanusiakan” pun dapat disalahgunakan. Sekolah dapat mengaku membentuk manusia ideal sambil menentukan sendiri bahasa, watak, agama, budaya, dan cara berpikir yang dianggap paling benar. Batlayeri mengingatkan bahwa konsep humanisasi perlu terus diperiksa secara kritis agar filsafat dan teologi tidak berubah menjadi kebenaran tunggal yang melegitimasi kekuasaan (Batlayeri, 2015). Guru yang manusiawi bukan guru tanpa pendirian, melainkan guru yang menggunakan kewenangannya secara terbuka, adil, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Memanusiakan Bukan Berarti Membiarkan

Pendidikan manusiawi bukan pendidikan tanpa aturan, tuntutan, atau kerja keras. Anak tetap perlu membaca dengan tekun, menyelesaikan tugas, menghormati orang lain, dan menerima koreksi. Driyarkara sendiri mengkritik pendidikan individualistis yang sekadar menuruti seluruh keinginan anak (Driyarkara, 2006, hlm. 420). Kebebasan tanpa tanggung jawab hanya memindahkan pusat kekuasaan dari guru kepada keinginan murid.

Yang harus dibedakan ialah disiplin yang membantu anak menguasai dirinya dan disiplin yang hanya memaksanya tunduk. Sekolah tidak dapat mengajarkan kejujuran sambil memanipulasi hasil, berbicara tentang karakter sambil membiarkan kekerasan, atau menyerukan tanggung jawab sambil menutup ruang kritik. Nilai-nilai tidak hidup karena ditulis di dinding, tetapi karena terlihat dalam hubungan sehari-hari.

Membaca Driyarkara dari Ruang Kelas di Papua

Di Papua, memanusiakan murid berarti mengakui bahwa setiap anak datang ke sekolah dengan bahasa, pengalaman, keluarga, dan pengetahuan komunitasnya. Jika logat dianggap sebagai kekurangan, bahasa lokal diperlakukan sebagai gangguan, atau jarak budaya disamakan dengan rendahnya kecerdasan, sekolah sedang merendahkan manusia yang seharusnya ditolongnya bertumbuh.

Pengakuan terhadap kebudayaan tidak berarti membatasi anak pada dunia setempat. Driyarkara menilai bahwa unsur lokal perlu digunakan berdasarkan nilai kemanusiaan yang dikandungnya, bukan sekadar bentuk luarnya (Driyarkara, 2006, hlm. 430). Penelitian mengenai murid Orang Asli Papua juga menunjukkan pentingnya bahasa lokal, keterlibatan masyarakat, pembelajaran kontekstual, dan lingkungan sekolah yang menumbuhkan rasa memiliki (Fiharsono et al., 2026).

Namun, kebudayaan tidak boleh dijadikan alasan untuk meromantisasi kekurangan. Ketiadaan buku, guru yang memadai, ruang aman, dan fasilitas dasar bukanlah pendidikan kontekstual. Memanusiakan manusia menuntut keadilan material sekaligus penghormatan kultural. Bahasa serta pengalaman komunitas harus menjadi jembatan menuju ilmu pengetahuan dan dunia yang lebih luas, bukan batas baru bagi masa depan anak.

Driyarkara mengingatkan bahwa sekolah dapat terus mengajar tetapi kehilangan jiwa pendidikan. Karena itu, kita perlu bertanya dengan jujur: apakah ruang kelas kita sungguh membantu murid menjadi manusia yang merdeka, bertanggung jawab, dan bermartabat, atau hanya melatih mereka memenuhi tuntutan sekolah?

Ruang percakapan

Pesan & komentar

0 tanggapan
Masuk dengan Google untuk berkomentar

Nama dan foto profil diambil dari akun Google setelah identitas berhasil diverifikasi.

Memuat percakapan…

Diizinkan oleh pemilik

Unduh tulisan ini

Simpan untuk dibaca kembali dalam format dokumen yang Anda perlukan.
Word PDF