Ruang Gagasan

Rousseau: Ketika Sekolah Merampas Masa Kanak-Kanak

Ketika pendidikan terlalu sibuk mengejar nilai dan masa depan, anak dapat kehilangan waktu untuk bermain, mengalami, dan bertumbuh. Bersama Rousseau, tulisan ini mengajak kita memeriksa kembali apakah sekolah sungguh memahami dunia serta tahap perkembangan anak.

Anak memandang teman-temannya bermain, menggambarkan masa kanak-kanak yang dibatasi sekolah.
Anak memandang teman-temannya bermain, menggambarkan masa kanak-kanak yang dibatasi sekolah.

Rousseau: Ketika Sekolah Merampas Masa Kanak-Kanak

Ada anak yang menjalani hari-harinya seperti orang dewasa kecil. Sejak pagi ia duduk di ruang kelas, menerima pelajaran, mengerjakan tugas, mengikuti les, lalu pulang membawa pekerjaan tambahan. Waktunya dipenuhi oleh target, nilai, dan tuntutan untuk berhasil. Bermain dianggap membuang waktu, rasa ingin tahu harus menyesuaikan diri dengan jadwal, sedangkan kesalahan diperlakukan sebagai tanda ketidakmampuan.

Semua itu sering dilakukan atas nama masa depan. Orang dewasa ingin anak segera pintar, cepat mandiri, dan mampu bersaing. Namun, di tengah keinginan mempersiapkan masa depan tersebut, pendidikan dapat lupa bahwa anak sedang menjalani suatu masa kehidupan yang tidak akan terulang. Masa kanak-kanak akhirnya hanya dianggap sebagai ruang tunggu menuju kedewasaan.

Pemikiran Jean-Jacques Rousseau membantu kita mempertanyakan keadaan ini. Melalui Émile, ia mengkritik pendidikan yang terlalu cepat membentuk anak menurut ukuran orang dewasa. Pendidikan seharusnya tidak memaksa anak menjadi seseorang sebelum waktunya, melainkan mendampinginya bertumbuh sesuai tahap perkembangan, kemampuan, dan pengalamannya.

Masa Kanak-Kanak Bukan Kedewasaan yang Belum Selesai

Rousseau melihat salah satu kesalahan besar pendidikan terletak pada cara orang dewasa memandang anak. Para pendidik terlalu sibuk mencari manusia dewasa di dalam diri anak sehingga tidak sungguh-sungguh memperhatikan siapa anak itu sekarang. Mereka menentukan apa yang harus diketahui anak berdasarkan kebutuhan masa depan, tetapi jarang bertanya apa yang dapat dipahami dan dialaminya pada tahap kehidupannya saat ini.

Bagi Rousseau, masa kanak-kanak memiliki cara melihat, berpikir, dan merasakan yang berbeda dari kedewasaan. Jika urutan pertumbuhan ini dibalik, pendidikan menghasilkan perkembangan yang dipaksakan: anak dapat mengucapkan kata-kata yang terdengar cerdas, tetapi belum tentu memahami maknanya. Ia mungkin mampu mengulangi penjelasan orang dewasa tanpa memiliki pengalaman yang membuat pengetahuan tersebut sungguh-sungguh menjadi miliknya (Rousseau, Émile, Pengantar dan Buku II).

Menghargai masa kanak-kanak bukan berarti menganggap anak tidak mampu belajar. Justru penghargaan itu dimulai dengan mengenali bahwa cara anak belajar tidak selalu sama dengan cara orang dewasa. Anak membutuhkan waktu untuk bergerak, bermain, mencoba, bertanya, gagal, dan mengulangi sesuatu sampai ia menemukan pengertian melalui pengalamannya sendiri.

Ketika Pendidikan Terlalu Terburu-buru

Sekolah dapat merampas masa kanak-kanak ketika keberhasilan selalu diukur berdasarkan kecepatan. Anak yang lebih dahulu membaca dianggap lebih cerdas. Murid yang cepat menjawab dipuji, sedangkan yang membutuhkan waktu lebih lama mulai merasa tertinggal. Perbedaan perkembangan kemudian mudah berubah menjadi peringkat kemampuan dan bahkan cap kegagalan.

Padahal, tidak semua keterlambatan merupakan kegagalan. Ada anak yang membutuhkan penjelasan berbeda, pengalaman yang lebih dekat, bahasa yang lebih dipahaminya, atau waktu yang lebih panjang. Ketika sekolah hanya menyediakan satu cara dan satu kecepatan belajar, anak yang tidak cocok dengan pola tersebut dapat dianggap bermasalah, meskipun persoalannya mungkin terletak pada cara pendidikan memperlakukannya.

Rousseau mengingatkan pendidik agar tidak tergesa-gesa. Waktu yang diberikan kepada anak untuk bertumbuh bukanlah waktu yang terbuang. Keinginan mencapai hasil terlalu cepat justru dapat menjauhkan pendidikan dari tujuannya. Anak mungkin berhasil menghafal untuk menghadapi ujian, tetapi kehilangan kegembiraan belajar karena sejak awal pengetahuan hadir sebagai tekanan (Rousseau, Émile, Buku II).

Belajar melalui Tubuh dan Pengalaman

Rousseau menjelaskan bahwa manusia menerima pendidikan dari alam, manusia lain, dan benda-benda di sekitarnya. Pertumbuhan kemampuan berasal dari alam; penggunaan kemampuan dibimbing oleh manusia; sedangkan pemahaman mengenai lingkungan diperoleh melalui pengalaman dengan berbagai hal yang dijumpai (Rousseau, Émile, Buku I).

Gagasan tersebut memperlihatkan bahwa belajar tidak hanya berlangsung melalui kata-kata dan buku. Anak belajar ketika menyentuh, mengamati, membandingkan, bergerak, mencoba, serta mengalami akibat dari tindakannya. Menurut Rousseau, tangan, kaki, mata, dan seluruh indra merupakan alat pertama bagi pembentukan pemikiran. Menggantikan semua pengalaman itu dengan penjelasan dapat membuat anak menggunakan pikiran orang lain sebelum mampu menggunakan pikirannya sendiri.

Buku tetap penting, tetapi buku tidak harus selalu menjadi pintu pertama menuju pengetahuan. Sebelum membaca penjelasan tentang berat, jarak, tumbuhan, atau kehidupan masyarakat, anak dapat diajak mengamati kenyataan yang dekat dengannya. Pelajaran menjadi lebih bermakna ketika pengetahuan tertulis bertemu dengan sesuatu yang pernah dilihat, dirasakan, dan dipertanyakan oleh murid.

Guru yang Mengetahui Kapan Harus Menuntun

Rousseau memperkenalkan gagasan yang kemudian dikenal sebagai “pendidikan negatif”. Istilah ini bukan berarti pendidikan yang buruk atau ketiadaan pendidikan. Maksudnya adalah pendidikan yang tidak terburu-buru memenuhi pikiran anak dengan nasihat, konsep, dan jawaban sebelum kemampuan untuk memahaminya berkembang.

Dalam pendekatan ini, guru tidak menghilang dari proses belajar. Ia mengatur lingkungan, menyediakan pengalaman, menjaga keselamatan, dan menumbuhkan keadaan yang memungkinkan anak menemukan sesuatu secara bertahap. Anak seolah-olah belajar melalui penemuannya sendiri, meskipun situasi belajarnya telah dipersiapkan dengan cermat oleh pendidik (Bertram, 2023).

Karena itu, guru bukan hanya orang yang paling banyak berbicara. Ia juga perlu mampu mengamati, menunggu, dan mengetahui kapan sebuah penjelasan benar-benar dibutuhkan. Kadang-kadang pertanyaan sederhana lebih mendidik daripada jawaban panjang. Kadang-kadang pengalaman memperbaiki kesalahan lebih kuat daripada teguran yang mempermalukan.

Kebebasan Bukan Pembiaran

Menghormati kebebasan anak tidak berarti membiarkannya melakukan apa saja. Anak tetap membutuhkan batas, perlindungan, kedisiplinan, dan bimbingan moral. Namun, batas tersebut seharusnya menolongnya memahami kenyataan dan akibat tindakannya, bukan sekadar menunjukkan kekuasaan orang dewasa.

Guru perlu membedakan antara mengarahkan dan menguasai. Mengarahkan berarti menciptakan keadaan yang membuat anak dapat belajar bertanggung jawab. Menguasai berarti menuntut kepatuhan hanya karena guru memiliki wewenang. Anak yang selalu dikendalikan mungkin terlihat tertib, tetapi belum tentu mampu mengambil keputusan ketika pengawasan tidak ada.

Pemikiran Rousseau pun tidak dapat diterima seluruhnya tanpa kritik. Pendidikan Émile bergantung pada seorang pembimbing pribadi dan sulit diterapkan secara utuh di sekolah dengan banyak murid. Dalam Buku V, pendidikan Sophie juga dibedakan berdasarkan pandangan tentang perempuan yang menempatkannya dalam hubungan yang tidak setara dengan Émile (Rousseau, Émile, Buku V). Karena itu, gagasannya tentang perkembangan anak dapat kita pelajari, sedangkan keterbatasan dan ketidakadilannya tetap harus ditolak.

Pendidikan yang Berangkat dari Kehidupan Anak

Pemikiran Rousseau penting dibicarakan dalam pendidikan di Papua. Anak tidak datang ke sekolah tanpa pengetahuan. Ia membawa bahasa, cerita keluarga, pengalaman hidup bersama, pengenalan terhadap lingkungan, serta pengetahuan yang diperoleh dari rumah, gereja, honai, kampung, dan masyarakatnya. Semua itu ikut membentuk cara anak melihat dunia.

Jika sekolah hanya mengakui isi buku sebagai pengetahuan, pengalaman anak dapat tersingkir. Murid diminta memahami dunia yang jauh, tetapi tidak diberi kesempatan menghubungkannya dengan kehidupan yang dekat. Lama-kelamaan, sekolah dapat membuat anak merasa bahwa apa yang diketahui keluarga dan masyarakatnya tidak memiliki nilai dalam pendidikan.

Menghubungkan pelajaran dengan pengalaman anak bukan berarti menolak ilmu pengetahuan atau menerima semua kebiasaan tanpa pemeriksaan. Pengetahuan dari rumah dan masyarakat tetap perlu dipertemukan dengan pengetahuan ilmiah, pandangan yang lebih luas, serta nilai kemanusiaan. Namun, perjumpaan itu seharusnya berlangsung melalui dialog, bukan dengan menghapus dunia asal anak. Pendekatan yang menghubungkan rumah dan sekolah menunjukkan bahwa keluarga serta masyarakat memiliki pengetahuan yang dapat memperkaya proses pembelajaran (Moll et al., 1992).

Mengembalikan Masa Kanak-Kanak kepada Anak

Sekolah tidak harus memilih antara kegembiraan dan kesungguhan. Bermain bukan lawan dari belajar, sebagaimana kedisiplinan tidak harus dibangun melalui ketakutan. Anak dapat belajar dengan serius melalui kegiatan yang membangkitkan rasa ingin tahu, memberi ruang untuk mencoba, dan menghubungkan pengetahuan dengan kenyataan.

Mengembalikan masa kanak-kanak kepada anak juga bukan berarti menurunkan mutu pendidikan. Justru pendidikan yang menghormati tahap perkembangan memberikan dasar yang lebih kuat. Anak tidak hanya mengejar nilai, tetapi memahami apa yang dipelajari. Ia tidak takut melakukan kesalahan karena mengetahui bahwa kesalahan dapat diperbaiki. Ia juga tidak melihat sekolah sebagai tempat yang merampas kebebasannya, melainkan sebagai ruang yang menolongnya mengenal diri dan dunia.

Rousseau mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak boleh hanya bertanya akan menjadi apa seorang anak kelak. Pendidikan juga harus memperhatikan siapa dirinya hari ini. Masa depan memang perlu dipersiapkan, tetapi persiapan itu tidak boleh dibayar dengan hilangnya kegembiraan, rasa ingin tahu, permainan, dan pengalaman yang menjadi bagian penting dari masa kanak-kanak.

Karena itu, kita perlu bertanya dengan jujur: apakah sekolah kita sedang mendampingi anak bertumbuh sesuai tahap kehidupannya, atau diam-diam merampas masa kanak-kanaknya demi memenuhi ukuran keberhasilan orang dewasa?

Ruang percakapan

Pesan & komentar

0 tanggapan
Masuk dengan Google untuk berkomentar

Nama dan foto profil diambil dari akun Google setelah identitas berhasil diverifikasi.

Memuat percakapan…

Diizinkan oleh pemilik

Unduh tulisan ini

Simpan untuk dibaca kembali dalam format dokumen yang Anda perlukan.
Word PDF