Ruang Gagasan

John Locke: Anak Tidak Lahir untuk Gagal

Anak tidak menjadi gagal hanya karena mengalami kesulitan belajar. Melalui pemikiran John Locke, tulisan ini mengajak kita melihat bagaimana pengalaman, lingkungan, dan cara pendidikan memperlakukan anak dapat membuka kemungkinan pertumbuhan atau justru menutupnya terlalu dini.

Seorang murid belajar melalui pengamatan, pengalaman, dan kesempatan untuk terus bertumbuh.
Seorang murid belajar melalui pengamatan, pengalaman, dan kesempatan untuk terus bertumbuh.

Anak Tidak Lahir untuk Gagal: Pendidikan dan Pengalaman Menurut Locke

Ada anak yang membutuhkan waktu lebih lama untuk membaca. Ada yang belum berani menjawab karena takut salah. Ada pula yang kesulitan memahami pelajaran karena bahasa yang digunakan di sekolah berbeda dari bahasa yang paling sering didengarnya di rumah. Namun, perbedaan seperti ini kadang terlalu cepat dianggap sebagai tanda kemalasan atau ketidakmampuan.

Nilai yang rendah kemudian tidak lagi dibaca sebagai keterangan tentang kesulitan yang sedang dialami, tetapi sebagai penilaian terhadap seluruh diri anak. Ia disebut bodoh, lambat, atau tidak memiliki masa depan. Ketika penilaian itu terus diulang, anak dapat mulai mempercayainya. Kesulitan yang seharusnya menjadi alasan untuk memberi pertolongan justru berubah menjadi vonis.

Pemikiran John Locke menolong kita memandang persoalan tersebut dari arah yang berbeda. Pengetahuan tidak dibawa manusia dalam bentuk yang sudah lengkap sejak lahir. Pengetahuan bertumbuh melalui pengalaman, pengamatan, dan refleksi. Karena itu, pendidikan tidak hanya bertugas menilai kemampuan anak, tetapi juga menyediakan pengalaman yang memungkinkan kemampuannya bertumbuh.

Ketika Kesulitan Belajar Dianggap sebagai Kegagalan

Sekolah membutuhkan penilaian untuk mengetahui perkembangan belajar murid. Namun, angka tidak dapat menjelaskan seluruh keadaan seorang anak. Nilai hanya memperlihatkan hasil tertentu, dalam pelajaran tertentu, pada waktu dan kondisi tertentu. Nilai tidak selalu menjelaskan mengapa seorang murid mengalami kesulitan.

Seorang anak dapat gagal menjawab bukan karena tidak mampu berpikir, melainkan karena belum memahami pertanyaan. Ia dapat tertinggal bukan karena malas, tetapi karena membutuhkan cara penjelasan yang berbeda. Kesalahan juga mungkin terjadi karena ia belum memiliki pengalaman awal yang diperlukan untuk memahami pelajaran berikutnya.

Masalahnya menjadi lebih berat ketika kesulitan dianggap sebagai identitas. Kalimat seperti “anak ini memang tidak bisa” menutup kemungkinan perubahan. Pendidikan kemudian berhenti mencari cara untuk menolong karena kegagalan dianggap berasal sepenuhnya dari diri anak. Padahal, kesulitan belajar seharusnya mendorong guru untuk bertanya: pengalaman apa yang belum diperoleh anak, penjelasan apa yang belum dipahaminya, dan dukungan apa yang sedang dibutuhkannya?

Pikiran Bertumbuh melalui Pengalaman

Dalam An Essay Concerning Human Understanding, Locke menggambarkan pikiran manusia pada awalnya seperti kertas putih yang belum memiliki tulisan. Bahan-bahan bagi pengetahuan diperoleh melalui pengalaman. Ia menyebut dua sumber utama pengetahuan, yaitu sensasi dan refleksi (Locke, An Essay Concerning Human Understanding, II.1.2–4).

Sensasi berkaitan dengan pengalaman manusia terhadap dunia melalui indra. Anak mengenal warna karena melihat, bunyi karena mendengar, tekstur karena menyentuh, serta panas dan dingin karena merasakannya. Sementara itu, refleksi terjadi ketika pikiran memperhatikan kegiatannya sendiri, seperti mengingat, membandingkan, meragukan, mempercayai, dan mempertimbangkan.

Gagasan ini tidak berarti bahwa semua anak lahir dengan kemampuan dan kecenderungan yang sama. Locke membicarakan pikiran sebagai “kertas putih” dalam hubungannya dengan isi pengetahuan, bukan sebagai pikiran yang sama sekali tidak memiliki daya. Manusia tetap memiliki kemampuan untuk menerima, mengolah, membandingkan, dan menyusun berbagai gagasan yang diperolehnya melalui pengalaman (Uzgalis, 2024).

Dengan demikian, pengalaman bukan hanya sesuatu yang terjadi di luar diri anak. Pengalaman menjadi bahan yang diolah oleh pikirannya. Anak belajar bukan sekadar karena dunia memasukkan informasi ke dalam kepalanya, tetapi karena ia mengamati, mencoba, bertanya, menghubungkan, dan memikirkan kembali apa yang dialaminya.

Anak Bukan Wadah Pasif yang Hanya Diisi

Gambaran tentang kertas putih dapat disalahgunakan untuk menganggap anak sebagai wadah kosong yang dapat diisi sesuka hati oleh orang dewasa. Akibatnya, pembelajaran hanya bergerak satu arah: guru berbicara, murid mendengar, lalu pengetahuan dianggap telah berpindah.

Padahal, pengalaman yang sama belum tentu dipahami dengan cara yang sama oleh setiap anak. Murid membawa perhatian, ingatan, bahasa, pertanyaan, serta cara menghubungkan pengalaman baru dengan sesuatu yang telah dikenalnya. Karena itu, mengajar tidak cukup dengan menyampaikan isi pelajaran. Guru perlu mengetahui bagaimana murid menerima dan mengolahnya.

Anak perlu diberi kesempatan untuk mengamati benda, mencoba suatu cara, membuat kesalahan, dan menjelaskan kembali pemahamannya. Ketika belajar tentang ukuran, misalnya, ia tidak hanya perlu menghafal satuan, tetapi juga mengukur benda yang nyata. Ketika belajar tentang tumbuhan, ia tidak hanya perlu mengingat bagian-bagiannya, tetapi juga mengamati tumbuhan di lingkungan sekitarnya. Pengalaman membuat pengetahuan memiliki hubungan dengan kehidupan.

Sekolah Dapat Membuka atau Menutup Kemungkinan

Jika pengetahuan bertumbuh melalui pengalaman, sekolah memiliki tanggung jawab besar terhadap pengalaman yang diterima murid. Ruang kelas dapat menjadi tempat anak mengalami rasa ingin tahu, keberanian mencoba, dan kegembiraan ketika memahami sesuatu. Namun, ruang kelas juga dapat menjadi tempat anak mengalami ketakutan, penghinaan, dan perasaan bahwa dirinya tidak mampu.

Cara guru menanggapi kesalahan merupakan bagian dari pendidikan. Ketika jawaban yang keliru langsung ditertawakan, anak belajar menyembunyikan ketidaktahuannya. Ketika pertanyaan dianggap mengganggu, ia belajar bahwa diam lebih aman daripada mencari pemahaman. Pengalaman seperti ini mungkin tidak tercatat dalam rapor, tetapi dapat memengaruhi hubungannya dengan kegiatan belajar.

Sebaliknya, kesalahan dapat dijadikan jalan untuk memahami cara berpikir murid. Guru dapat bertanya mengapa anak memilih jawaban tertentu, bagian mana yang belum jelas, dan pengalaman apa yang dapat menolongnya melihat persoalan dengan cara berbeda. Sekolah membuka kemungkinan ketika kesulitan tidak dipakai untuk merendahkan, melainkan untuk menentukan pertolongan yang tepat.

Kebiasaan, Keteladanan, dan Pendidikan Karakter

Locke tidak hanya membicarakan bagaimana manusia memperoleh pengetahuan. Dalam Some Thoughts Concerning Education, ia juga memberi perhatian besar kepada kebiasaan, keteladanan, penalaran, dan pembentukan watak. Meskipun karya tersebut lahir dalam keadaan sosial yang berbeda dari pendidikan masa kini, gagasan bahwa pendidikan berlangsung melalui kehidupan sehari-hari tetap penting untuk dipertimbangkan (Locke, Some Thoughts Concerning Education).

Anak belajar tentang kejujuran bukan hanya melalui definisi, tetapi juga melalui pengalaman melihat orang dewasa mengakui kesalahan. Ia belajar tentang keadilan melalui cara aturan diterapkan. Ia belajar menghargai orang lain melalui cara dirinya dihargai. Keteladanan menjadi pengalaman yang terus dibaca oleh anak, bahkan ketika orang dewasa tidak sedang memberikan pelajaran.

Pembiasaan tetap perlu disertai alasan. Anak tidak cukup hanya diperintah melakukan sesuatu. Ia perlu ditolong memahami mengapa tindakan itu baik dan akibat apa yang ditimbulkan oleh pilihannya. Dengan demikian, pendidikan tidak menghasilkan kepatuhan yang bergantung pada pengawasan, melainkan kemampuan untuk mempertimbangkan dan mengatur diri.

Menghargai Pengalaman Anak-Anak Papua

Anak-anak di Papua tidak datang ke sekolah tanpa pengetahuan. Mereka membawa bahasa, cerita keluarga, kehidupan kampung, alam, gereja, honai, kebun, permainan, pekerjaan bersama, dan berbagai pengalaman yang membentuk cara mereka memahami dunia. Pengalaman tersebut merupakan sumber pengetahuan yang dapat dihubungkan dengan pembelajaran di sekolah.

Pendekatan funds of knowledge mengingatkan bahwa keluarga dan masyarakat memiliki pengetahuan serta keterampilan yang penting bagi proses belajar anak. Sekolah dapat membangun hubungan antara pengetahuan dari rumah dan pengetahuan yang dipelajari di kelas (Moll et al., 1992).

Menghargai pengalaman anak bukan berarti menerima semua pengetahuan tanpa pemeriksaan. Pengalaman tetap perlu didialogkan dengan ilmu pengetahuan, bukti, dan nilai kemanusiaan. Namun, dialog tidak dapat berlangsung apabila sekolah sejak awal menganggap kehidupan anak tidak memiliki sesuatu yang berharga.

Kesulitan menggunakan bahasa pengantar, memahami contoh yang asing, atau menyesuaikan diri dengan cara belajar tertentu juga tidak boleh langsung disebut sebagai ketidakmampuan. Sekolah perlu membangun jembatan dari sesuatu yang telah dikenal anak menuju pengetahuan yang lebih luas. Pendidikan memperluas dunia anak tanpa membuatnya malu terhadap dunia tempat ia bertumbuh.

Dari Vonis Kegagalan Menuju Kesempatan Bertumbuh

Pemikiran Locke tidak menjanjikan bahwa setiap kesulitan dapat diselesaikan hanya dengan memberikan pengalaman baru. Kemampuan anak dipengaruhi oleh banyak keadaan, dan sebagian anak membutuhkan dukungan yang lebih khusus. Namun, gagasannya mengingatkan bahwa perkembangan manusia tidak boleh diperlakukan sebagai sesuatu yang telah selesai sejak lahir.

Karena itu, guru perlu membedakan antara mengatakan “anak ini belum memahami” dan “anak ini tidak mampu memahami.” Kata “belum” masih menyisakan ruang bagi waktu, latihan, cara mengajar yang berbeda, dan kesempatan untuk mencoba kembali. Sebaliknya, vonis menutup pintu bahkan sebelum anak memperoleh pertolongan yang dibutuhkannya.

Pendidikan yang adil bukan pendidikan yang memberikan pengalaman yang persis sama kepada setiap anak. Pendidikan yang adil berusaha memahami kebutuhan mereka dan menyediakan jalan yang memungkinkan masing-masing anak bertumbuh. Ada murid yang membutuhkan lebih banyak contoh, pengulangan, waktu, percakapan, atau pengalaman langsung. Perbedaan tersebut bukan alasan untuk merendahkan mereka.

Anak tidak lahir untuk gagal. Ia lahir dengan kemungkinan untuk mengenal, mengalami, berpikir, dan bertumbuh. Tugas pendidikan bukan menentukan terlalu cepat siapa yang akan berhasil dan siapa yang akan tertinggal. Tugas pendidikan adalah menjaga agar kesulitan tidak berubah menjadi nasib hanya karena sekolah berhenti memberi kesempatan.

Pada akhirnya, kita perlu bertanya dengan jujur: apakah pendidikan kita sedang memberi anak pengalaman yang menolongnya bertumbuh, atau terlalu cepat mengubah kesulitan belajar menjadi vonis bahwa ia tidak mampu?

Ruang percakapan

Pesan & komentar

0 tanggapan
Masuk dengan Google untuk berkomentar

Nama dan foto profil diambil dari akun Google setelah identitas berhasil diverifikasi.

Memuat percakapan…

Diizinkan oleh pemilik

Unduh tulisan ini

Simpan untuk dibaca kembali dalam format dokumen yang Anda perlukan.
Word PDF