Membangun Budaya Calistung di Lanny Jaya: Peran Rumah dan Sekolah
Setiap orang tua tentu memiliki harapan agar anaknya bertumbuh menjadi pribadi yang cerdas, mandiri, dan memiliki masa depan yang baik. Harapan itu terlihat ketika orang tua menyiapkan kebutuhan sekolah, mengantar anak, membayar biaya pendidikan, atau mengingatkan mereka agar rajin belajar. Di balik semua usaha tersebut, ada keyakinan bahwa pendidikan dapat menolong anak menjalani kehidupan yang lebih baik.
Namun, pendidikan anak tidak hanya berlangsung ketika mereka berada di sekolah. Setelah jam pelajaran selesai, anak kembali ke rumah dan menghabiskan sebagian besar kehidupannya bersama keluarga serta lingkungan di sekitarnya. Karena itu, rumah tidak boleh hanya menjadi tempat anak makan, bermain, dan beristirahat. Rumah juga perlu menjadi ruang tempat kebiasaan belajar ditumbuhkan.
Kesadaran ini menjadi semakin penting setelah Ketua PGRI Kabupaten Lanny Jaya yang sekaligus Kepala SMK Negeri 2 Tiom, Resmin Kogoya, S.Si., M.Pd., menyampaikan pesan melalui grup WhatsApp PGRI pada 7 Agustus 2026. Berdasarkan pantauannya dalam Penerimaan Peserta Didik Baru SMA/SMK tahun pelajaran 2026/2027 di Kabupaten Lanny Jaya, masih ditemukan banyak peserta didik baru yang kemampuan membaca, menulis, dan berhitungnya belum memadai.
Pesan tersebut perlu kita terima bukan sebagai alasan untuk mencari siapa yang paling bersalah. Ini adalah tanda peringatan bagi seluruh pihak bahwa ada bagian dari proses pendidikan anak-anak kita yang perlu diperbaiki bersama.
Calistung Bukan Hanya Tanggung Jawab Sekolah
Membaca, menulis, dan berhitung atau calistung merupakan kemampuan dasar yang diperlukan anak untuk mempelajari berbagai bidang pengetahuan. Anak yang belum mampu membaca dengan baik akan kesulitan memahami soal dan buku pelajaran. Anak yang belum mampu menulis akan mengalami hambatan ketika hendak menyampaikan pikiran dan menjawab pertanyaan. Demikian pula, kemampuan berhitung dibutuhkan untuk memahami angka, waktu, ukuran, uang, dan berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
Sekolah tentu mempunyai tanggung jawab penting dalam mengajarkan kemampuan tersebut. Namun, sekolah bekerja dalam waktu yang terbatas. Guru berhadapan dengan banyak peserta didik yang memiliki kebutuhan dan tingkat kemampuan berbeda. Karena itu, kita tidak dapat menyerahkan seluruh proses pendidikan kepada guru, kemudian hanya menunggu hasilnya pada saat pembagian rapor.
Calistung tidak cukup diajarkan sebagai pelajaran. Calistung perlu dibangun sebagai budaya. Budaya itu tumbuh ketika membaca, menulis, dan berhitung menjadi bagian dari kebiasaan anak, baik di sekolah maupun di rumah. Jika kegiatan belajar hanya terjadi ketika guru berdiri di depan kelas, kemampuan anak akan sulit berkembang secara berkelanjutan.
Rumah adalah Lingkungan Pendidikan Pertama
Jauh sebelum mengenal ruang kelas, anak telah belajar dari rumah. Mereka belajar berbicara dengan mendengarkan orang tua. Mereka mengenal nama benda melalui percakapan dalam keluarga. Mereka juga belajar bersikap dengan memperhatikan apa yang dilakukan orang-orang di sekitarnya. Ini menunjukkan bahwa keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi seorang anak.
Oleh sebab itu, peran orang tua tidak selesai ketika anak telah didaftarkan ke sekolah. Memasukkan anak ke sekolah bukan berarti menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan kepada guru. Guru melanjutkan dan memperluas pendidikan yang telah dimulai dalam keluarga, sedangkan orang tua membantu memelihara apa yang dipelajari anak di sekolah.
Orang tua juga tidak harus menjadi guru profesional untuk mendampingi anak belajar. Tidak semua orang tua memiliki tingkat pendidikan, kemampuan, waktu, dan keadaan ekonomi yang sama. Karena itu, pendampingan di rumah tidak harus dilakukan dengan menyediakan buku mahal atau memberikan pelajaran yang rumit. Yang paling dibutuhkan anak ialah perhatian, kesempatan untuk berlatih, dan kehadiran orang tua.
Orang tua dapat meminta anak membaca satu bagian pendek setiap hari seperti satu perikop Alkitab, menuliskan namanya, menceritakan kembali pelajaran yang diterima di sekolah, atau menghitung benda-benda di rumah. Anak juga dapat diajak menghitung uang belanja, hasil kebun, jumlah anggota keluarga, atau benda lain yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan sederhana seperti ini membuat calistung terasa dekat dengan kehidupan, bukan hanya sebagai tugas sekolah.
Anak Membutuhkan Pendampingan, Bukan Penghakiman
Ketika anak belum mampu membaca, menulis, atau berhitung dengan baik, pertanyaan pertama seharusnya bukan, “Mengapa kamu bodoh?” atau “Mengapa kamu tidak bisa?” Pertanyaan seperti itu dapat melukai perasaan dan membuat anak takut mencoba.
Kita perlu menggantinya dengan pertanyaan yang lebih mendampingi: “Bagian mana yang belum kamu mengerti?” atau “Mari kita coba bersama-sama.” Anak yang lambat belajar tidak selalu membutuhkan suara yang lebih keras. Ia sering kali membutuhkan waktu, pengulangan, perhatian, dan kesabaran yang lebih besar.
Orang tua perlu menghargai setiap kemajuan kecil. Ketika anak mulai mampu mengenali huruf, membaca satu kalimat, menulis namanya, atau menyelesaikan hitungan sederhana, berikanlah penghargaan. Pujian yang jujur dapat membangun keberanian anak untuk terus belajar. Sebaliknya, ejekan dan perbandingan dengan anak lain dapat membuatnya merasa bahwa belajar adalah pengalaman yang menyakitkan.
Kita juga perlu menyadari bahwa tidak semua kesulitan belajar disebabkan oleh kemalasan. Ada anak yang mungkin belum memperoleh pendampingan yang cukup, belum memahami bahasa yang digunakan dalam pembelajaran, sering tertinggal dalam pelajaran, atau memiliki kebutuhan belajar tertentu. Penyebabnya harus diperiksa dengan hati-hati melalui komunikasi antara guru dan orang tua, bukan ditentukan berdasarkan dugaan.
Kemitraan yang Saling Menguatkan
Kemitraan antara orang tua dan sekolah tidak boleh terjadi hanya ketika anak bermasalah. Komunikasi perlu dibangun sejak awal. Guru dapat menyampaikan kemampuan apa yang sudah dan belum dikuasai anak. Orang tua kemudian melanjutkan latihan sederhana di rumah serta menyampaikan kembali perkembangan atau kesulitan yang mereka temukan.
Sekolah juga perlu memberikan panduan yang mudah dipahami keluarga. Jangan sampai orang tua diminta mendampingi anak, tetapi tidak mengetahui apa yang harus dilakukan. Program pertemuan orang tua, lembar latihan sederhana, kegiatan membaca bersama, dan pemeriksaan perkembangan secara berkala dapat menjadi bagian dari kerja sama tersebut.
Pada saat yang sama, pemerintah daerah dan Dinas Pendidikan perlu mendukung sekolah melalui pemetaan kemampuan peserta didik, penyediaan bahan bacaan, penguatan kapasitas guru, serta program literasi dan numerasi yang berkelanjutan. PGRI dapat menjadi penggerak yang mempertemukan sekolah, guru, orang tua, dan pemerintah dalam tujuan yang sama.
Pesan Ketua PGRI bahwa persoalan ini merupakan “PR bersama kita semua” patut menjadi dasar gerakan tersebut. SD tidak perlu menyalahkan keluarga. SMP tidak seharusnya hanya menyalahkan SD. SMA dan SMK juga tidak cukup mengeluhkan kemampuan peserta didik baru. Demikian pula, orang tua tidak boleh menyerahkan semuanya kepada sekolah. Setiap pihak perlu melihat apa yang dapat dilakukannya.
Membangun budaya calistung dari rumah tidak membutuhkan langkah besar untuk memulainya. Kita dapat memulainya dengan duduk beberapa menit bersama anak, mendengarkan mereka membaca, memperhatikan tulisannya, mengajak mereka berhitung, dan menanyakan apa yang dipelajari di sekolah. Jika dilakukan dengan sabar dan teratur, perhatian kecil itu dapat menjadi bagian penting dari fondasi masa depan mereka.
Jika kita menginginkan anak-anak Lanny Jaya bertumbuh sebagai generasi yang mampu membaca, menulis, berhitung, dan memahami dunia dengan lebih baik, sudahkah rumah kita menjadi tempat yang menumbuhkan kecintaan mereka terhadap belajar, ataukah kita masih menyerahkan seluruh tanggung jawab itu kepada sekolah?

Memuat percakapan…